Selasa, 01 Desember 2009

Uneg-uneg Edufair, Kalo Boleh ...

Ada hal yang menarik saat hari Sabtu kemarin, tanggal 27 November 2009, saya dan beberapa teman pulang ke Malang untuk menghadiri sebuah acara yang diadakan di SMA saya dulu. Nama resmi acaranya sendiri panjang dan jujur saya lupa apa, tapi untuk lebih mudahnya disebut Education Fair atau disebut Edufair saja oleh teman-teman. Idenya adalah acara tersebut didesain untuk menjadi ajang para alumni SMA yang sudah diterima di berbagai universitas untuk bisa berbagi informasi dengan adik-adik kelas 3 yang habis ini bakal ‘melanjutkan’. Saya sendiri diutus oleh para sesepuh alumni yang ada di DIY Jateng untuk datang ke sana dengan beberapa teman, mewakili UGM dan UNS. . Ada Unair, ITS, ITB, UB, UGM, dan UNS.


Tapi ya itulah, ekspektasi saya bahwa acara memang bakal sesuai dengan tujuan semula rasanya buyar waktu acara prentasi bersama yang diadakan di aula sekolah. Saya bener-bener heran. Nggumun bahasa Jawanya, ndak habis pikir. Pada waktu itu mestinya wakil-wakil dari masing-masing universitas bergantian maju untuk mempresentasikan informasi tentang universitasnyai hadapan adik-adik kelas 3 yang duduk manis di tikar. Itu yang mestinya terjadi. Lha yang terjadi sebenernya? Daripada presentasi informasi, wakil-wakil universitas ini lebih mirip promosi dan ‘menyombongkan’ (maaf saya pakai kata ini, habis ndak tahu lagi pake kata apa yang bener-bener gathuk … ) universitasnya sendiri-sendiri. Malah ada yang sampai membawa nama universitas lain ( baca: saingannya ) yang kebetulan juga hadir di sana. Apa yang bikin saya nelangsa itu ya satu itu. Ada adik kelas 3 yang jadi audiens kebetulan comment di status fesbuknya. Isinya begini :


“ Edufair = ajang sombong2an antar universitas ? “


Waduh…


Sebenernya bukan apa-apa sih saya posting tulisan ini, sama sekali ndak ada maksud untuk menyalahkan (anu, kalo ada teman saya yang tahu dan kebetulan baca blog saya … ^^ ). Bisa dibilang ini hanya penyampaian uneg-uneg atas apa yang saya lihat waktu acara tersebut. Sebenernya pada waktu persiapan acara pertama yang diadakan tahun lalu, saya yakin bahwa pasti bakal ada yang ada namanya ‘sentimen’ dan ‘kesombongan’ antar masing-masing wakil universitas, walaupun sifatnya ndak terlalu terang-terangan. Berbagai macam wakil dari universitas tumplek blek di satu tempat untuk menyampaikan presentasinya, lengkap dengan jas almamater kebanggaannya masing-masing, plus yang jadi audiensnya ya adik-adiknya sendiri. Ya bayangkan sendiri atmosfernya … Saya paham kok kalo kita emang kudu bangga dengan universitas kita, setuju banget dah! Tapi kan kita ke sana atas nama satu wadah, alumni, Ikasmariagitma. Mbok kebanggan dan perbedaan itu disingkirkan untuk sementara, kita bebarengan fokus ke adik-adik yang emang jadi tujuan kita. Memberi informasi dan bantuan, titik.


Saya waktu itu (acara tahun lalu) khawatir takutnya nanti ada ‘persaingan’ yang ndak sehat. Presentasi yang mestinya untuk memberikan informasi secara obyektif ke adik-adiknya malah jadi ajang promosi ( kalau kata teman saya Pancar, ajang perekrutan ) universitas. Adik-adiknya yang mestinya bisa mempertimbangkan dengan baik berbagai macam pilihan lewat informasi yang disediakan, dipaksa untuk ‘memilih di tempat’. Maaf lho ya temen-temen, tapi ini masalahnya masa depan orang e. Biarkan adik-adiknya yang menentukan lewat informasi yang kita sediakan, biarkan mereka lihat kemampuan diri dulu. Toh mereka kan juga bukan orang yang nggak tahu apa-apa, ya to? Mereka juga uda punya ekspektasi dan pemikiran sendiri. Mbok jangan didoktrin mana yang baik mana yang buruk, bahkan sampe bawa-bawa universitas atau jurusan lain sebagai perbandingan. Malah terasa kesan ada dikotomi universitas, atau jurusan pilihan, yang ’elite’ dan yang ’biasa’. Saya ndak ngerti apa yang dirasakan sama temen-temen, tapi saya sendiri jujur prihatin ...


Yang terakhir, ya kalau memang teman-teman alumni memang ndak bisa bicara atas nama satu wadah, kalau merasa bahwa caranya melihat acara edufair ini ndak bisa disamakan, ya minimal saya usulkan adanya aturan main. Apa-apa yang boleh disinggung dan apa-apa yang ndak boleh dalam presentasi, rule of the game-nya lah pokoknya. Ini semua untuk menghindari adanya kesan seperti yang sudah terjadi kemarin. Mbok ayo bebarengan kita sama-sama sebagai alumni tu bener-bener jadi satu. Jangan terpecah-pecah seperti kemarin. Kita pertama kali punya rencana edufair ini, seingat saya dan kalo masih belum diubah, itu untuk adik-adik kelas kita. Ini bukan soal kita sebagai alumni. Dan kalau akhirnya malah adik-adiknya memandang bahwa edufair cuma jadi acara tempat sombong-sombongan antar universitas, lha buat apa? Ya to ?

Minggu, 27 September 2009

My Lonely Lullaby


Yep, 2 minggu pulang kampung sama artinya dengan nggak ngenet sama sekali. Kabar temen-temen di blog juga sejauh ini belum saya cek semua, mohon maaf soalnya lagi pengen nyante dulu di rumah, hehe ... ^^ Sekali maaf buat temen-temen ...
--------------
This is my new artwork. The main source i picked up from katanazstock.deviantart.com, one of my favourite photograph i think. As you can see here, i began to try a new style. More focused, neat, and simple. Hope you like it =D

Rabu, 09 September 2009

Kalo Boleh Curhat ...

Seorang ’temen’ yang diterima di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya dulu pernah datang dan nangis ma saya. Dari cerita yang kemudian saya dengar, dia bilang bahwa dia merasa diremehin. Sakit hati. ”Kuliah di HI? Mang mau jadi apa kamu?”, kata beberapa temen dan tetangganya. Padahal saya tahu benar bahwa HI memang bidang yang paling dia inginkan, dia memang cocok ada di sana. Satu hal yang bikin dia bener-bener sedih adalah, justru guru BP SMA-nya lah yang komentarnya paling kerasa dan langsung, tanpa tedheng aling-aling. ”Kuliah kok cuman di HI aja ...”. Saya diem aja waktu itu, nggak ngerti harus bilang apa. Campur-campur perasaanya. Ya marah, ya sedih, kasihan, tapi juga pasrah. Iya, pasrah. Pasrah karena saya juga mengalami hal yang kurang lebih sama dengannya. Saya ngerti banget apa yang dia rasakan ...

Bagi mereka yang mengikuti kata hatinya, jalan memang tak pernah lebih mudah. Saya paham benar kata-kata itu. Waktu saya milih komunikasi dulu, waduh ... Banyak kata-kata yang ndak enak. Selalu dibanding-bandingkan sama temen yang ketrima di kedokteran, di teknik, di mana aja. Katanya prospeknya nggak jelas, emang di komunikasi mau jadi apa? Mau jadi tukang ngomong, jadi operator telpon? Tapi walopun begitu saya tetep jalani, tetep mempeng. Soalnya saya tahu apa potensi saya. Saya tahu pilihan saya. Kalo saya bisa nulis, bisa ngomong, bisa desain dan suka kreatif, buat apa saya jadi dokter? Potensi itu anugerah Allah SWT, jangan disia-siakan. Mestinya dipupuk dan dikembangkan...

Saya kadang merasa kasihan, nelangsa kalo ngeliat ibu saya waktu ditanyain orang. ”Angga di komunikasi? Emang mau kerja jadi apa?” tanya budhe ato temen kantor Ibu. Ibu saya cuman mesem,”Yah ... pokoknya jadi orang berguna pokoknya...”. Saya tahu Ibu ndak malu, tapi sedikit banyak hatinya nelangsa. Saya tahu benar itu. Dimana teman-temannya cerita bakal jadi apa anaknya nanti, ibu saya nggak bisa njawab. Pernah yang putranya di ITB dengan bangga bilang putranya bakal jadi teknisi pesawat nanti, cerita panjang lebar soal gajinya yang gedhe. Belum lagi yang kuliah di kedokteran, akuntansi, ato manajemen. Dan waktu gantian ibu saya yang ditanya? Beliau ndak ngerti soal bidang pilihan saya, nggak umum kalo kata orang. Ibu saya nggak bisa njawab akhirnya. Tapi walopun begitu toh beliau tetap tersenyum. Walopun di dalam hatinya mungkin Ibu nggak setuju, tapi beliau tetep percaya sama saya.

Mungkin bener kata temen-temennya Ibu saya itu. Mungkin bener kalo jalan yang saya ambil ini ndak bakal semudah mereka yang putranya ada di kedokteran atau di akuntansi atau dimanapun, saya ndiri ndak tahu. Yang saya tahu cuman pokoknya saya sudah memilih bidang yang saya suka, tempat dimana saya mestinya berada. Bukan karena iming-iming reputasi atau semacamnya. Bapak saya pernah bilang kalo kesuksesan itu bukan tentang dimana kamu berada, tapi apa yang kamu lakukan. Mau jadi apa saya nanti, sukses ato ndak, itu urusan Yang Di Atas. Saya ndak bisa memastikan apa-apa. Yang jelas saya bakal berusaha. Berusaha biar suatu hari nanti, ndak tahu kapan, kalo ditanya orang. ”Wah, Mas Angga dulu kuliahnya dimana Bu?”, ibu saya bisa njawab dengan bangga,


Di Komunikasi !

Time For Payback !


My new artwork. Now i'm focusing on improving my lght-based editing, it seems that the design graphic industry prefer this style this day. I hope you like it ^^ and don't forget to give me any comment or critic. Enjoy !

Minggu, 06 September 2009

Jangan Cepet Marah Donk!



Ojo Gampang Nesu …

Beberapa hari yang lalu saya dapet pengalaman yang sempat bikin saya jadi terheran-heran. Saking herannya sampe bingung kudu ngapain, jadilah akhirnya saya nulis deh di blog. Jadi ceritanya gini. Waktu habis buka puasa, temen saya si Rere minta dianterin buat ngambil duit di atm. Padahal jarak antara kos sama atm sebenernya deket lho, tapi enggak tau kenapa tetep aja dianya minta dianterin. Takut katanya ( belakangan saya inget kalo dia masih trauma, soalnya bokongnya pernah tiba-tiba diremes sama banci waktu acara ke atm sebelumnya). Tapi ya sudahlah, sebagai teman yang baik toh akhirnya dia saya anterin juga.

Nah ni dia. Waktu pulang dari atm ( btw Rere ketemu lagi ma banci yang kemarin lho! ) tiba-tiba WER! Ada sepeda motor nyelonong mau nabrak saya dari depan. Mendadak tu motor berhenti di belakang saya. Dan langsung deh, yang terjadi berikutnya kayak di acara termehek-mehek gitu. Si cowoknya yang nyetir tu gak tau ngomong apa, pokoknya mbentak cewek yang dia bonceng. Ceweknya kayaknya nggak terima, terus dia mbanting helmnya ke jalan dan langsung marah-marah pake teriak-teriak. Padahal waktu itu jalan macet banget, dan dua orang itu kayak orang kesetanan. Jadi rame deh pokoknya. Malah yang cowok sempat mau jotos-jotosan ma cowok lain yang kebetulan da di situ, gak tau karena apa. Saya ma Rere cuman bisa melongo aja. Ya ampuun ....

Yang sebelumnya juga pernah lho saya lihat yang kayak gitu, tapi lebih ekstrim lagi. Ceritanya ni saya sama Rere ( Haduh! Lagi-lagi ma ni anak! Gak ada yang lain apa? ) habis beli tiket nonton Transformer 2 di XXI. Buat nunggu jam tayang yang lumayan lama akhirnya kita nunggu sambil duduk-duduk di teras samping. Lagi enak-enaknya ngobrol, eh tiba-tiba dari dalem XXI ada rame-rame. Kayak ada suara orang marah sambil teriak-teriak gitu pokoknya. Semua orang sampe pada noleh, pada penasaran. Dan Anda tahu apa yang jadi sumber keributan? Ternyata ada cewek, umurnya sekitar 28-35an gitu, keluar sambil marah-marah dari XXI lewat pintu samping. Dia ngomel keras banget, dan kasarnya enggak ketulungan ( ” Anj**g semua ! Kalo mau XXI ni gua beli semuanya ! ” ). Dan Anda tahu apa yang dia lakukan sambil teriak-teriak gitu?



Dia ngeludahin XXI.


Berkali-kali sambil ngumpat-ngumpat, di depan orang banyak.



Gila nggak?? Dan waktu si cewek ini sampe ke depan pintu XXI, tiba-tiba GEDUMBRANG !! Dia mbanting tempat sampah logam, masih sambil marah-marah, sebelum akhirnya bablas pergi naek Honda Jazz merah. Oh iya, di pos parkir dia juga sempat mbentak-mbentak mbak yang jaga di dalemnya keras-keras. Masya Allah, emang ni orang kesambet kali ya ... ? Kalo cowok ato bapak-bapak, yang mukanya sangar ma berewokan gitu mah mungkin saya ngerti. Ni uda cewek, sendirian pula!

Saya akhirnya jadi mikir nih, kok bisa ya ada orang yang bisa segitunya kalo lagi marah ? Lepas kontrol banget. Mbok kalo lagi marah itu ya dikontrol sedikit, jangan dilepaskan seenaknya kayak gitu. Temperamental banget. Saya juga emang tipenya ndak bisa marah-marah soalnya, jadi kalo ngeliat yang kayak gitu rasanya aneh. Jangankan gitu, ngeliat ada orang mbentak orang lain aja saya ni sudah ngerasa geregeten. Ndak suka aja ngeliatnya ...

Ni kalo saya lho. Saya mikirnya sih, marah itu wajar. Cuman pelampiasannya itu lho yang jadi masalah. Pernah liat filmnya Jack Nicholson ma Adam Sandler, The Anger Management? Jangan pernah memendam kemarahan atau dendam, karena akhirnya hal itu bakal membuat dirimu sakit sendiri. Hidup ini dibuat enak aja lagi. Kalo pas lagi kecewa, yang mikir aja, ”mungkin emang bukan waktunya. Santai sajalaaa ... ”. Hidup ni terlalu berharga kalo hanya untuk dibuat mikirin rasa sakit ma dendam, lagian itu semua kan tergantung kita gimana ngaturnya. Mikir yang positif, maka keadaan juga bakal jadi posistif. Percaya deh! Walopun ada yang bilang kalo ada orang yang terlahir temperamen, itu mah karena dia enggak mau berusaha buat ngubah kepribadiannya aja. Saya yakin bisa kok kalo mau berusaha.


Kamis, 03 September 2009

Menjadi Pribadi Yang Disukai Orang Lain: Part 2

3. Mendengarkan

Di salah satu cerpennya ( judulnya Sepotong Senja kalo nggak salah), saya lupa kata-katanya yang pasti, Seno Gumira Ajidharma pernah bilang begini:

Aku tidak akan terlalu banyak berkata-kata lagi. Sudah terlalu banyak kata-kata di bumi ini. Orang terlalu sibuk berkata-kata hingga mereka tidak punya waktu untuk mendengarkan kata-kata orang lain, bahkan kata-katanya sendiri.”

Ya mungkin bener juga apa yang disinggung sama Seno di atas. Kita ni kadang susah banget kalo disuruh ndengerin orang lain, iya nggak sih? Coba deh, di antara temen-temen ada kan yang punya temen curhat? Nah, diinget-inget ya, pernah nggak temen-temen dateng ma temen curhatnya, trus ngeluangin waktu dengan tulus cuman buat ndengerin temen itu cerita? Eng Ing Eng! Jarang kan? Yang ada tu kita sering telpon temen kita trus bilang,” Bud, gue ada masalah ma Amel nih. Pengen crita, penting banget! ”. Uda deh, crita sampe berbusa berjam-jam, sampe mewek-mewek.

Nah, sebenernya ni adalah hal yang paling penting ketika kita ingin disukai oleh orang lain dalam sebuah obrolan. Pertama, mendengarkan. Kedua, kurangi bicara tentang diri sendiri. Dua hal ini penting banget artinya dalam sebuah hubungan relasional. Ingat, kalo kita pengen disukai oleh orang lain, berangkatlah dari pandangan ’mereka’. Bukan pandangan ’kita’. Orang ingin dan suka didengarkan, maka dengarkanlah orang lain. Orang ingin merasa bahwa mereka dihargai dan diperhatikan, maka bersikaplah antusias. Banyak bertanya dan menggali lebih jauh. Itu kuncinya.

Nggak perlu terlalu dibuat-buat, jangan-jangan yang ada malah ntar kita dikira tukang pura-pura. Mindset kita aja tentang ’mendengarkan’ yang diubah. Ndengerin itu gedhe banget lho manfaatnya. Pertama, kita bisa lebih ngerti tentang gimana jalan pikiran dan sikap orang yang kita ajak bicara. Uda gitu informasi yang kita dapet juga nambah, iya to? Kedua, kita membangun sebuah kepercayaan dengan orang lain dengan tidak bersikap egois. Orang malah jadi tambah respek dan menghargai kita. Analoginya blog deh (mesisan wes, kan ini nulisnya di blog ^^ ). Ada kan temen-temen yang hobi banget nulis di blog, tapi jarang banget buat blogwalking plus baca postingan temen-temennya? Ato blogwalking tapi cuman buat promosi blog di shoutbox doank? Uda gitu, pengen pula blognya rajin dibaca orang. Nah lho, sedikit banyak sebel kan jadinya kita? Nah, sama kayak ngobrol ma orang lain. Tapi coba, misalnya ada temen yang tiap kita posting, setidaknya dia baca punya kita dikit-dikit. Ato malah ada yang nyempetin diri buat komen tentang isi postingan kita walopun benernya isi postingnya cuman kayak status fesbuk (” Aduh, lagi nggoreng krupuk nih. Lagi hot ... ”). Kita malah suka kan ma orang-orang kayak gini? Mereka perhatian, dan menganggap bahwa apapun isi pikiran kita itu penting. Mereka inilah orang-orang yang ’mendengarkan’. Salut deh buat mereka!

Ndengerin itu nggak susah, tapi mang harus sabar dan perlu latihan. Cara yang utama ya nekan ego kita sendiri, jangan mendominasi dalam sebuah percakapan. Orang kan juga males kan ndengerin kita kalo gitu caranya? Kalo kita mau ndengerin orang lain, orang lain juga bakal belajar buat ndengerin kita karena mereka udah merasa kita hargai. Nah makanya itu, kita harus belajar untuk mendengarkan. Selamat mencoba ^^


Minggu, 30 Agustus 2009

Kepak Sayap Seribu Kupu-kupu


Pada kepak sayap seribu kupu-kupu masih kudengar desah nafasmu
Yang terbang bersama kidung sungai jiwa-jiwa, berkelana
Melintasi lembah dan padang, negeri tak bernama
Yang di tiap jengkal tanahnya seakan berbisik dan tertawa
memasung rinduku dalam penjara waktu Meninggalkan sayat luka menganga


Seribu kupu-kupu terus terbang, lelah aku mengejarnya
Berusaha merengkuh retak kenangan dalam warna-warna surga
Warna kita, warna milik kita, dan hanya kita
Dengan kuas cinta kulukis hadirmu pada kanvas cerita
Aku dan dirimu,
Namun tetap saja, kupu-kupu terus terbang
Mengepak lirih bagai nyanyian padang sunyi
Membawa senyum dan tawamu terbang bersamanya ...


------------

Ada sebuah senja di Parangtritis. Cerita lama tentang saya, Ari, Ihda, Rifka, ma Asta. Salah satu momen paling tak bisa dilupakan. Ada warna senja yang takkan bisa dihapus waktu ...











( Terimakasih buat Ihda yang uda mau make kamera Nikon-nya buat motret empat cecunguk ini di Parangtritis sore itu. Kapan kita jalan-jalan ma motret lagi ? )