Kamis, 27 Desember 2012

Sebuah Senja



Bila punya waktu, datanglah ke Jogja
Kami tak memiliki taman bermain
wahana raksasa yang berputar mengguncang adrenalin. 
Atau kios-kios bersinar yang menjual barang-barang mahal berbinar
Atau kafe temaram yang menjual kopi dan makanan kelas tinggi
Yang ada cukuplah kopi hitam dengan ampas tebal di gelas kaca kecil 
Yang dijual dalam tenda oranye di atas gerobak kayu mungil
Lengkap dengan wajah sederhana berlogat jawa yang akan sering menyapa

Tapi tak mengapa,
Karena di sini kami punya senja
Yang dengan cuma-cuma boleh Anda ambil sepotong
Silahkan. Bawalah pulang
Karena siapa tahu
Kerinduan akan membawa Anda hadir di jalanan kota ini lagi
Menunggu senja. Menunggu kenangan lama.







Natal. 25 Desember 2012. 
Saya dan Titi bermain warna dan cahaya


Rabu, 12 Desember 2012

Sate, Lontong, dan Kesuksesan



Bu Sri, ibu kos saya (atau mungkin lebih tepat dipanggil nenek kos mengingat usianya yang memang sudah sepuh) berbagai sebuah cerita menarik sesaat sebelum saya mengeluarkan motor dari garasi. 

Bu Sri memiliki dua rumah, yang pertama kos yang saya tempati sekarang dan yang kedua rumah keluarga yang ada di daerah Pojok Beteng dekat Kraton Jogjakarta. Di rumah Pojok Beteng ini Bu Sri memiliki tetangga yang pekerjaan sehari-hari adalah tukang sate keliling. Mungkin yang tinggal di Jogja pernah melihat atau bahkan mencicipi sajian sate keliling ini, yang gerobaknya berbentuk seperti perahu dan biasanya saat didorong mengeluarkan bunyi lonceng. Suami istri ini bisa dibilang hidupnya sangat pas-pasan. " Wonge ki ra duwe, uripe yo muk sakonone (Orangnya tak punya, hidupnya hanya seadanya saja)", begitu kata Bu Sri. Karena memang hidupnya pas-pasan akhirnya putri semata wayang mereka tidak dapat melanjutkan kuliah. Padahal kata Bu Sri si bapak ingin sekali putrinya bisa melanjutkan kuliah dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Siti, putri pasangan penjual sate ini akhirnya harus ngenger (jawa: ikut) sebagai pembantu di sebuah toko yang dimiliki seorang etnis Cina untuk membantu ekonomi keluarga.

Tak disangka bapak pemilik toko ini ternyata adalah orang yang sangat baik. Beliau menawarkan Siti untuk memilih ingin kuliah di mana dan akan menanggung seluruh biaya kuliah, asalkan Siti tetap bekerja bantu-batu di toko saat malam sambil ngemong putranya yang masih kecil. Siti akhirnya memilih untuk kuliah seni kriya di ISI Jogja. Jadilah Siti kuliah pagi dan saat malam ia membantu mengasuh putra Bapak pemilik toko itu. Jujur saat pertama kali mendengar bahwa ia memilih jurusan itu saya ada perasaan iba, semacam pikiran "Kok nggak milih jurusan akuntansi atau apa gitu yang bisa gampang cari kerjanya .... ".

Pikiran tadi seperti langsung menampar saya balik, tepat di muka, karena baru kemarin dia lulus dan langsung ditarik oleh sebuah tim kurator museum di Jerman. Sekarang dia belajar bahasa Korea karena ia akan dipindah ke Korea untuk menetap cukup lama di sana, bekerja bersama beberapa seniman kriya Korea. Seketika ia langsung jadi bahan pembicaraan di kampung Jokteng. Siti menjadi contoh bahwa orang yang 'tidak punya'pun bisa sukses kalau mau berusaha dan berdoa. Wong cuman putrinya tukang jualan sate sama lontong kok ya bisa jadi seniman sukses di Jerman dan Korea, begitu kata orang-orang. Kata Bu Sri, orang tuanya langsung menangis waktu dengar dia diajak ke Jerman. Saya dengar juga waktu Siti wisuda keduanya sama-sama bingung waktu diminta tanda tangan kelulusan putrinya, karena keduanya cuman bisa bikin sate dan lontong, gak bisa kalau disuruh tanda tangan.

Satu hal hal yang saya petik pelajaran hari ini. Dulu sempat saya berpikir bahwa kesuksesan semacam Siti, melanglang buana ke luar negeri seperti itu harus didukung dengan ambisi yang menggebu-gebu. Giat promosi diri yang gencar biar dikenal. Menang sana-sini sambil unjuk gigi biar diminati. Tapi ternyata ya ndak harus begitu juga kok. Siti contohnya. Ndak harus jadi pribadi 'jakarta' yang nampak ambisinya, tetap saja berpegang pada budaya dan kerendah hatian ternyata juga bisa kemana-mana. Saya ingat dulu dia sering datang menengok Bu Sri. Perawakannya kecil, manis, sopan (bahkan dengan saya yang seumuran), dan keliatan sekali 'Jawa'nya. Kata Bu Sri, Siti adalah pribadi yang sangat nrimo, ndak pernah sambat (jawa : mengeluh) tentang apapun. Waktu kelulusan dia cuma menggunakan sarung Madura lama Ibunya yang berlubang dan hanya ditambal oleh sang ibu di malam sebelum wisuda karena memang keluarganya cuman punya satu sarung yang layak. 

" Ndak perlu ngoyo (berlebihan) untuk mengejar suatu keinginan. Pokoknya tetep tawakal. Eling. Kalau Allah SWT maringi dalan, ya kelakon..." kata Bu Sri. 

 Saya tersentil sekali pagi ini. Lebih beruntung dari Siti tapi kok ya masih begini-begini saja. Jelas ini pelajaran yang berharga buat saya hari ini :)




Sabtu, 08 Desember 2012

Pengalaman 'Merinding' di Museum Biologi UGM



Pagi ini saya dan Titi iseng-iseng saja berkunjung ke Museum Biologi UGM Yogyakarta. Sebenarnya awalnya kami berencana untuk bermain ke Museum Ulen Sentalu di Pakem, tapi apa daya nampaknya matahari sedang bersemangat sekali hari ini. Pulang dengan tubuh belang-belang karena memaksakan diri naik motor berdua ke arah Merapi sepertinya bukan ide yang bagus. Dan jadilah kami memutuskan untuk mengunjungi museum biologi. Oh ya, sebenarnya saya juga mau sedikit bernostalgia. Dulu waktu jaman SD saya pernah mengunjungi Museum Biologi dan Museum Jendral SUdirman saat acara widaya wisata ke Jogja. Saya penasaran seperti apa bentuk museum itu sekarang. 



Ingatan saya tentang Museum Biologi nampak seperti potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap. Ruangan gelap dengan rak-rak berisi toples berisi cairan dan hewan awetan berwarna pucat, kerangka ikan raksasa, musang dan elang awetan, dan bau khloroform yang kuat. Saya tidak bisa bilang kalau memori saya tentang museum biologi memang bisa dikatakan 'menyenangkan'. Satu hal yang saya ingat dari museum biologi adalah sebuah tempat yang gelap dan lembab dengan arsitektur 'rumah nenek'. Bangunan bergaya lama dengan bentuk jendela dan pintu yang khas dengan cat berwarna krem. Saya dan teman-teman dari SD dulu harus berbaris perlahan dipandu para guru diantara rak-rak berisi toples kaca hewan awetan sambil mendengarkan penjelasan dari penjaga museum (luar biasa jika mengingat saat itu kami tidak memecahkan apapun). Saya penasaran seperti apa museum biologi sekarang, apalagi baru akhir-akhir ini saya tahu bahwa museum itu juga adalah milik UGM. Saya harus ke sana.

Kami berdua tiba sekitar pukul 11 siang. Beberapa pegawai (semua ibu-ibu berseragam dan berkerudung) bertemu kami di parkiran motor dan segera mempersilakan kami masuk. Hari itu nampaknya para pegawai memang ada acara kondangan sehingga di museum hanya tersisa dua orang pegawai saja. Tiket kami beli dari seorang bapak berperawakan kecil yang mengajak kami ke dalam sebuah ruangan yang nampaknya berfungsi sebagai kantor. Masih tetap gelap dan lembab, pikir saya. Sejenak kemudian setelah membayar tiket seharga 3000 rupiah per orang kami diijinkan untuk dapat menikmati koleksi museum ini. 


Dari yang bisa saya katakan museum ini nampaknya sudah beberapa kali mengalami perbaikan. Lantainya tidak berasal dari tegel hitam licin seperti yang saya ingat dulu, namun sudah menjadi lantai keramik putih. Koleksinya juga sudah dirapikan dan disesuaikan, karena saya ingat betul museum biologi dulu sesak sekali. Pengunjung harus melewati koridor kecil dengan segala macam koleksi berjejalan di sekitarnya. Ada beberapa koleksi yang cukup menarik seperti foto seekor ular yang baru saja menelan seorang pria di Sumatra, kerangka gajah lengkap (yang nampaknya jadi trade mark museum ini), awetan komodo yang tubuhnya lebih besar dari saya, dan beberapa awetan burung yang nampak asli. Selain kami hanya ada seorang bapak dan dua anaknya serta dua orang pegawai museum yang berada di sana. Saya dan Titi cukup menikmati waktu kami melihat beberapa koleksi museum itu. Setidaknya sampai kami masuk ke ruangan yang berada di ujung koridor ... 


Di ujung museum terdapat ruangan luas yang berisi beberapa diorama hewan awetan dengan rak tinggi berisi kotak-kotak kayu berisi koleksi serangga. Ruangan ini nampaknya adalah ruangan utama dari museum biologi karena berisi koleksi hewan-hewan awetan yang lebih besar seperti harimau, orang utan, beberapa jenis kera, dan tapir. Saat saya memasuki ruangan itu memang sudah terasa sedikit aneh karena bapak dan kedua anaknya tadi nampaknya memilih untuk tidak masuk ke ruangan ini. Hanya kami berdua yang ada di ruangan itu. Di sebelah kiri ruangan ada sebuah kotak kaca besar dengan lis kayu berwarna putih-krem yang didalamnya terdapat beberapa hewan awetan. Tapir, bekantan, beberapa jenis kera, dan sejenis musang yang menggigit burung. Ada satu koleksi yang langsung membuat kami sama-sama menoleh. Sebuah potongan kepala seekor babi hutan nampak memandang kami dengan mata kelerengnya dari balik kotak kaca itu. Entah kenapa saya merasa ada yang berbeda dengan kepala babi hutan itu (nampaknya Titi juga merasakan hal yang sama karena kami langsung menatap kepala babi itu cukup lama).

Dan tiba-tiba saja rasanya ruangan jadi panas dan sesak. Saya merinding.

Saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Tiba-tiba saja udara terasa sesak dan panas. Saya tetap berusaha menikmati koleksi lain karena saya tak mau Titi jadi panik. Dia pemberani sekali kalau nonton film horor, tapi penakut sekali kalau diajak ke tempat gelap dan semacamnya. Saya juga tidak berani bilang kalau sebenarnya saya merasa kami seperti ada yang mengikuti. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi saya merasa seperti ada 'seseorang' di belakang saya di ruangan tersebut tapi itu tak mungkin karena jelas hanya ada kami berdua di ruangan tersebut.  Semakin aneh karena bapak dan kedua anaknya itu nampaknya juga sudah meninggalkan museum, dan hanya tinggal kami berdua dan kedua pegawai yang jelas-jelas sedang ada di ruangan kantor sekarang.  Saya berusaha menenangkan diri, berusaha agar perasaan sesak itu hilang dengan terus-terusan berpikir "udah-nggak-usah-mikir-aneh-aneh-deh".
Perasaan itu semakin kuat saat saya masuk ke ruangan sempit yang di dalamnya terdapat kerangka manusia berwarna kecoklatan dalam sebuah lemari kaca. Saya sadar bahwa Titi juga ketakutan, tapi dengan bijak memilih untuk tidak panik dan pelan-pelan mengajak kami berdua keluar museum.

Di parkiran saya langsung menyalakan sepeda motor. Di luar museum 'perasaan' itu seketika hilang, tapi saya masih merasa tidak nyaman. Tangan saya basah oleh keringat.  Sebelum pulang saya sempatkan menyapa bapak pegawai yang tadi memberikan kami karcis. Jelas ada yang 'nunggu' di museum ini, pikir saya. Saya ingat bahwa dulu saya pernah membaca sebuah artikel di internet yang menyatakan kalau Museum Biologi UGM ini memang sedikit angker. Konon para penjaga malam sering mendengar ada suara hewan seperti harimau atau kera di dalam ruangan museum yang sudah dikunci, padahal semua sama-sama tahu kalau tak ada hewan  yang masih 'hidup' di dalamnya.

Soal apa sebenarnya terjadi tadi siang, well ... Wallahu Alam ...

 

Kamis, 06 Desember 2012

Berbagi Mimpi



Minggu lalu saya dan dua adik kelas, Ipeh dan Ghora semacam 'berkolaborasi' untuk kompetisi Apaidemu.com. Di kompetisi yang disponsori Pertamina ini anak-anak muda ditantang untuk menyampaikan apapun ide mereka, dalam bidang apa saja, yang bertujuan untuk membuat Indonesia lebih baik. 



Kami membuat sebuah campaign berjudul 'Berbagi Mimpi'. Campaign ini sebenarnya muncul dari cerita Ipeh yang tahun lalu berkesempatan untuk melakukan KKN di sebuah desat terpencil di Papua bernama Yakati. Cerita dan pengalaman yang ia dapatkan di sana sejujurnya sungguh menarik buat saya, tentang bagaimana sebuah desa di Papua sana harus menjalani kehidupan jauh dari segala macam akses informasi. Dari sini kemudian saya mengajak Ipeh untuk 'tandem' ketika ada kesempatan di Apaidemu.com ini, dengan harapan siapa tahu campaign kecil kami disetujui dan bisa mengajak lebih banyak orang peduli dengan Papua. 


Lewat campaign ini kami mengajak anak-anak di Jawa untuk  mengirim surat dan gambar kecil tentang cita-cita mereka pada kawan mereka di Papua. Walaupun kedengarannya sederhana, efeknya bisa berarti sekali. Dari anak-anak untuk anak-anak. 



Walaupun kami belum beruntung di kesempatan ini, saya jujur tidak merasa sedih. Ini adalah hasil kolaborasi pertama saya dengan adik kelas, bahkan dengan orang lain di luar 'lingkaran' tim saya dulu seperti Matahari, Cahya, atau Ari. Rasanya segar. Menyenangkan malah, rasanya saya mendapat banyak pelajaran. Entah karena saya suka melihat obrolan antara Ipeh dan Ghora ("kowe ki koyo TV layar datar Peh ...") atau memang karena saya jadi merasa 'baru' lagi. Tidak ada beban untuk menang atau kalah, hanya keinginan untuk membantu anak-anak Yakati. Sebenarnya saya sedikit malu untuk mengatakannya, tapi kemarin saya sangat ingin program ini bisa kami laksanakan sendiri. Naif mungkin, tapi saya rasa pasti akan sangat menyenangkan bila melihat wajah-wajah anak Yakati itu bisa menerima surat dari anak lain yang nun jauh di sana ... :)

Saya tahu bahwa masih banyak kekurangan dari campaign yang saya buat itu. Tapi toh namanya juga belajar. Dan terima kasih untuk Ipeh dan Ghora yang sudah berkenan mau mengajak saya berkolaborasi. Kapan-kapan nek sempet gawe meneh yo cah :D 




Senin, 19 November 2012

Menilik Budaya Komentar Orang Indonesia







Bahkan Anda yang mungkin tidak suka membaca koran atau menonton Jeremy Teti di layar televisi juga menyadari bahwa Indonesia saat ini sudah kental dengan internet. Dunia digital hadir layaknya sebuah padang bermain baru. Semua orang jadi punya akses yang sama ke segala informasi. Saya pernah membaca sebuah artikel yang isinya menyatakan bahwa Indonesia boleh bangga karena masyarakatnya sudah pada melek internet. Dan semudah rumus merebus mie instan, dikatakan bahwa masyarakat yang melek informasi nantinya akan jadi masyarakat yang maju. Luar biasa.  

Setidaknya itu pandangan saya dulu hingga sampai saya mengamati pola komentar masyarakat kita di dunia digital. 

Tulisan ini sebenarnya merupakan hasil perasaan miris yang berlarut-larut karena membaca berbagai komentar masyarakat Indonesia di berbagai artikel dunia maya. Bagi Anda yang pernah menyempatkan diri memperhatikan isi dari komentar masyarakat Indonesia tentu akan mengerti maksud saya. Ya, isi komentar masyarakat Indonesia ketika menanggapi sebuah isu atau artikel di internet sangat memprihatinkan. Saya kemarin melakukan analisis kecil-kecilan tentang budaya berkomentar masyarakat Indonesia, dan ini yang sedikit bisa saya simpulkan : 

  • Lebih mengikuti tema atau isu yang 'dangkal'.


Dari yang saya perhatikan, ada 3 tema artikel yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Politik, kriminal, dan seks. Sebenarnya ini sebuah temuan yang menggelitik mengingat nampaknya hampir semua orang berpandangan buruk tentang politik tapi berita tentang politik tak pernah sepi dari komentar. Coba saja perhatikan di Kompas.com atau di Detik.com. Yang membuat saya miris adalah mengapa malah tema-tema artikel yang sifatnya membangun seperti sains dan kebudayaan minim pembaca. Headline 'Novi si Pengemudi Seksi' lebih banyak dikomentari daripada artikel tentang penyelamatan orang utan di Kalimantan 

  • Belum dapat memahami sopan santun dalam berkomentar.  
Sebenarnya saya sedikit ragu apakah saya benar menggunakan kata 'budaya berkomentar' di judul tulisan ini mengingat kolom komentar di artikel Indonesia isinya kebanyakan adalah 'budaya mencaci-maki. Kadang sulit rasanya untuk dapat menemukan sebuah artikel yang membuat pro kontra tanpa menemukan komentar yang isinya saling menghina. Berkomentar bukan menjadi sebuah sarana untuk saling mencerahkan dan berbagi argumen yang solid tapi lebih menjadi ajang pertarungan cacian dan sumpah serapah.

  • Comment First Read Later
Ini adalah sebuah penyakit yang sering saya lihat di berbagai artikel berita di internet. Seringkali masyarakat Indonesia segera menulis komentar (dan umumnya isinya lebih ke cacian) tanpa melihat dulu isi berita. Misalnya ketika judulnya ada tulisan "Demokrat" langsung saja menuliskan komentar kritik tentang bagaimana parahnya sepak terjang partai Demokrat, padahal isi beritanya adalah tentang rekonsiliasi antara partai Demokrat dan Republik saat US Election kemarin. Pernah dulu saya menyaksikan sebuah page bertajuk TV One di Facebook yang ramai sekali oleh kritikan para pemirsa Indonesia, padahal jelas-jelas dari info serta logo yang ada page tersebut adalah milik TVOne America. 

  • Bicara orang, bukan ide dan gagasan
Eleanor Roosevelt dulu pernah berkata "Orang besar berbicara tentang ide dan gagasan, orang biasa bicara tentang kejadian, sementara orang kecil bicara tentang orang lain". Di Indonesia sayangnya kebanyakan masih berada di poin ketiga. Ketika ada sebuah artikel, jarang sekali arah diskusi di bawa ke ranah yang lebih membangun. Membicarakan gagasan atau minimal membicarakan kemungkinan solusi. Yang ada seringkali hanyalah komentar yang 'asal-bunyi' saja. Misalnya saja ketika ada berita tentang bencana banjir di tempat X, banyak komentar isinya bukan tentang bagaimana kemungkinan untuk mengupayakan bantuan swadaya tapi malah saling menyalahkan. Mulai dari bobroknya pemerintahan SBY hingga karena tempat X adalah lokasi mesum yang akhirnya diadzab Tuhan karena dosa-dosanya. Terkesan lucu? Percayalah Anda akan sering menemukannya di kolom artikel Kompas.com. 


Saya rasa sangat perlu untuk diadakan semacam pendidikan tentang sopan santun dan aturan main di dunia maya. Ini penting karena masyarakat Indonesia benar mampu mengoperasikan berbagai fasilitas internet, tapi pertanyaannya adalah apakah 'mampu mengoperasikan' sama dengan 'mengerti dan memahami'? Benar adanya bahwa berkomentar adalah kemerdekaan setiap orang ketika ia berada di dunia digital. Siapapun boleh menulis apapun sesuai apa yang ada dalam pikirannya. Tulisan saya inipun juga tidak mengkritik atas apa yang harus atau tidak seharusnya ditulis orang. Yang saya tuliskan di sini hanyalah sebuah refleksi atas sebuah hal sederhana berupa kolom komentar di sebuah artikel online, yang bisa memberikan kita insight tentang bagaimana pola pikir masyarakat Indonesia. Sebuah refleksi yang seakan-akan membuat kita bertanya "Apakah memang Indonesia benar-benar maju dengan adanya kemajuan teknologi internet ini?"  


Minggu, 04 November 2012

Cah Sangar, Katanya ...



Hujan turun rintik-rintik dari subuh membasahi jalanan dan lampu-lampu neon pertokoan sepanjang jalan Gejayan. Selamat pagi semua. Saya doakan dimanapun Anda berada sekarang langit di atas Anda tidak sekelabu langit Jogjakarta pagi ini. Atau mungkin Anda malah harus bersyukur, mengingat volume air yang jatuh tumpah dan meluncur pelan di jendela membuat kopi di cangkir porselen favorit Anda terasa lebih hangat dari biasanya. Hujan memang menciptakan beragam rasa. Well, apapun rasa yang ditimbulkan hujan saya harap hari ini berjalan dengan menyenangkan. Saya sendiri tidak begitu yakin apakah hujan pagi ini adalah pertanda baik untuk sisa hari ini, namun yang jelas saya tahu kalau suara hujan tadi pagi mengajak saya untuk menulis. 

Sedikit celoteh dari sebuah kejadian beberapa saat yang lalu ...

Sekitar sebulan yang lalu saya mendapat sebuah balasan twit yang cukup nyentil dari kakak kelas saya 'Awe' Ardi Wilda. Saat itu ceritanya saya sedang semangat gembar-gembor untuk membantu adek-adek Deadline untuk menang di kompetisi kreatif Pinasthika. Banyak yang saya lakukan mulai dari nulis status semangat dan motivasi di FB, sedikit ikut sharing-sharing, sampai khusus nulis di blog. Saya sangat ingin adek-adek kelas kami ini bisa ikut merasakan kemenangan seperti yang bisa saya raih dulu. Di tengah semangat saya itu si Awe ini ngetwit khusus untuk saya yang intinya "Kesuksesan di matamu belum tentu sama kayak kesuksesan yang orang lain pengen. Jangan dipaksain orang lain buat ngikut kamu. Jangan-jangan kamu ini post-power syndrom karena bukan masamu lagi...? ". 

Jleb. Saya seakan ditampar. Jujur saja saya malu. Saya sadar dan mulai bertanya-tanya. 

Walaupun tidak sepenuhnya benar tapi ada poin yang benar-benar nampol buat saya di twit Awe waktu itu. Sebuah pertanyaan pun muncul di kepala saya. Sebenarnya semua yang saya lakukan untuk adik-adik ini emang karena saya tulus ingin membantu, atau sebenarnya adalah keegoisan untuk mengajak orang lain mengikuti jalan saya? Definisi sukses di mata saya adalah menang kompetisi dan berkibar di festival kreatif, sehingga saya lalu memandang bahwa adik-adik yang 'nampaknya' tak punya passion itu sebagai sesuatu yang disayangkan. Atau mungkin juga di dalam hati sebenarnya saya menyukai peran 'penyelamat Deadline' ini karena saya merasa nyaman dan hebat, seorang senior yang selalu jadi rujukan dan dihormati adek kelas? Duduk di semua pertemuan dengan semua mata memandang saya, dengan sesekali menikmati tatapan takjub adek kelas saat saya bicara tentang keberhasilan saya di kompetisi X dan Y. Sebuah perasaan superior sebagai senior yang bisa memberikan semua penilaian tentang baik dan buruk, punya legitimasi untuk mengkritik dan lain sebagainya. Dadi cah sangar, diajeni.

Mungkin saja pikiran saya ini salah, saya harap juga begitu. Tulisan ini pun sebenarnya juga otokritik atas apa-apa yang saya mungkin saya pikirkan kemarin. Toh kemarin juga Deadline berhasil membawa dua gold dan 1 bronze di Pinasthika 2012. Saya ucapkan selamat. Tapi jauh di dalam hati saya tahu bahwa Awe benar. Saya sudah berpikir egois. Dari beragam kejadian yang terjadi belakangan ini, mulai dari cerita tentang adik saya hingga teman-teman lama SMA membuat saya kian sadar bahwa kesuksesan itu berbeda bentuknya. dan tidak sepatutnya saya mendikte orang lain untuk mencapai kesuksesan yang sama dengan apa yang saya alami.