Tapi ya itulah, ekspektasi saya bahwa acara memang bakal sesuai dengan tujuan semula rasanya buyar waktu acara prentasi bersama yang diadakan di aula sekolah. Saya bener-bener heran. Nggumun bahasa Jawanya, ndak habis pikir. Pada waktu itu mestinya wakil-wakil dari masing-masing universitas bergantian maju untuk mempresentasikan informasi tentang universitasnyai hadapan adik-adik kelas 3 yang duduk manis di tikar. Itu yang mestinya terjadi. Lha yang terjadi sebenernya? Daripada presentasi informasi, wakil-wakil universitas ini lebih mirip promosi dan ‘menyombongkan’ (maaf saya pakai kata ini, habis ndak tahu lagi pake kata apa yang bener-bener gathuk … ) universitasnya sendiri-sendiri. Malah ada yang sampai membawa nama universitas lain ( baca: saingannya ) yang kebetulan juga hadir di
“ Edufair = ajang sombong2an antar universitas ? “
Waduh…
Sebenernya bukan apa-apa sih saya posting tulisan ini, sama sekali ndak ada maksud untuk menyalahkan (anu, kalo ada teman saya yang tahu dan kebetulan baca blog saya … ^^ ). Bisa dibilang ini hanya penyampaian uneg-uneg atas apa yang saya lihat waktu acara tersebut. Sebenernya pada waktu persiapan acara pertama yang diadakan tahun lalu, saya yakin bahwa pasti bakal ada yang ada namanya ‘sentimen’ dan ‘kesombongan’ antar masing-masing wakil universitas, walaupun sifatnya ndak terlalu terang-terangan. Berbagai macam wakil dari universitas tumplek blek di satu tempat untuk menyampaikan presentasinya, lengkap dengan jas almamater kebanggaannya masing-masing, plus yang jadi audiensnya ya adik-adiknya sendiri. Ya bayangkan sendiri atmosfernya … Saya paham kok kalo kita emang kudu bangga dengan universitas kita, setuju banget dah! Tapi kan kita ke sana atas nama satu wadah, alumni, Ikasmariagitma. Mbok kebanggan dan perbedaan itu disingkirkan untuk sementara, kita bebarengan fokus ke adik-adik yang emang jadi tujuan kita. Memberi informasi dan bantuan, titik.
Saya waktu itu (acara tahun lalu) khawatir takutnya nanti ada ‘persaingan’ yang ndak sehat. Presentasi yang mestinya untuk memberikan informasi secara obyektif ke adik-adiknya malah jadi ajang promosi ( kalau kata teman saya Pancar, ajang perekrutan ) universitas. Adik-adiknya yang mestinya bisa mempertimbangkan dengan baik berbagai macam pilihan lewat informasi yang disediakan, dipaksa untuk ‘memilih di tempat’. Maaf lho ya temen-temen, tapi ini masalahnya masa depan orang e. Biarkan adik-adiknya yang menentukan lewat informasi yang kita sediakan, biarkan mereka lihat kemampuan diri dulu. Toh mereka kan juga bukan orang yang nggak tahu apa-apa, ya to? Mereka juga uda punya ekspektasi dan pemikiran sendiri. Mbok jangan didoktrin mana yang baik mana yang buruk, bahkan sampe bawa-bawa universitas atau jurusan lain sebagai perbandingan. Malah terasa kesan ada dikotomi universitas, atau jurusan pilihan, yang ’elite’ dan yang ’biasa’. Saya ndak ngerti apa yang dirasakan sama temen-temen, tapi saya sendiri jujur prihatin ...









