Senin, 07 Juni 2010

Realistis Idealis


Realistis atau idealis. Saya tidak tahu apa alasan Ello untuk memilih kata tersebut sebagai judul albumnya, iseng saja barangkali. Entahlah. Tapi yang jelas saya tahu kalau kedua kata itu sering mondar-mandir bersliweran di kepala kita. Ya, pilihan untuk menjadi idealis atau realistis. Sebuah obrolan klise sebenarnya, yang mungkin sudah bosan untuk diaduk dan dituang berulang kali dalam kata-kata di warung kopi. Tentang pilihan-pilihan yang akan kita ambil dalam hidup nanti. Tetap berpegang teguh pada prinsip, atau menyerah pada tuntutan kebutuhan. Ya, mari bicara sedikit tentang saya, mahasiswa, dan pilihan-pilihan itu …


Ketika kemarin saya membaca sepotong tulisan di blog seorang teman tentang pengalamannya bertemu demo mahasiswa, entah kenapa rasanya jadi terpikir lagi tentang pilihan idealis dan realistis. Konyol sekali rasanya kalau kita berpikir lagi tentang batas idealisme. Absurd. Dan maaf kalo saya mengatakan ini, tapi kadang idealisme masa muda yang sering diteriakkan saat demo itu bagi saya lebih terlihat sebagai euforia hipokrit. Sosok yang berdiri paling depan di barisan pendemo, berteriak paling lantang, dan tampil seakan siap melawan dunia pada akhirnya kemungkinan besar akan menjadi petinggi dari perusahaan yang dulu ia lawan. Ya, ini cerita lama sebenarnya. Sementara di satu sisi ada lagi mereka yang dengan terbuka menghamba pada pasar dan ‘kebutuhan’. Benar-benar ‘realistis’, kata mereka. Tanpa prinsip, tanpa kepercayaan, hanya pribadi dan kebutuhan …


Mungkin bagi beberapa orang, yang dengan teguh memegang kepercayaan dan prinsip seperti Munir atau Iwan Fals, tak ada kompromi akan kedua pilihan tersebut. Ijinkan saya mengatakan kalau mereka adalah orang-orang yang sungguh luar biasa. Namun menjadi idealis dan realistis bagi saya pribadi bukanlah sebuah pilihan biner. Tak ada pembedaan hitam putih atas kedua hal tersebut, karena hidup selalu berubah. Menjadi idealis dengan cara dan batas kita sendiri saya pikir lebih masuk akal daripada memberikan wacana dan teriakan layaknya seorang mesias, namun akhirnya nanti harus menelan semuanya dan menyerah pada kebutuhan. Tidak ada yang mau berakhir seperti seorang munafik bukan? Salah seorang teman saya, Edwin, sering mengatakan di status fesbuknya bahwa tindakan yang nyata walaupun kecil dan sifatnya pribadi akan lebih berarti daripada kata-kata lantang yang berisi wacana dan tuntutan. Deeds, not words. Saya setuju sekali dengannya. Entah Anda, entah orang lain ...

2 komentar:

secangkir teh dan sekerat roti mengatakan...

horor pegang gunting euy!

Angga Prawadika mengatakan...

Gunting : simbol luka dan perpisahan. hehehe ... =p