Kamis, 19 Agustus 2010

The Lord of the Rings : Novel


Mungkin akan terdengar tolol kalo saya bertanya ‘adakah yang belum pernah nonton trilogi film The Lords of the Rings?’. Saya yakin pasti semuanya udah pernah nonton, minimal salah satu diantara 3 serinya. Toh juga udah beberapa kali ditayangkan di tivi juga, ya kan? Soal suka atau tidak dengan ceritanya mungkin bisa berbeda. Tapi adakah yang sudah pernah membaca ketiga novelnya? Well, di postingan kali ini anggap aja saya lagi iseng ngebahas tentang salah satu bacaan jaman SMP dulu. Nostalgia dikit ni ceritanya, hehe ... :p Yep, mari ngobrol sedikit tentang novel The Lord of the Rings.

Sedikit basa-basi, The Lords of the Rings adalah sebuah novel trilogi karya novelis asal Inggris J.R.R Tolkien. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1955, The Lords of the Rings segera mendapatkan banyak perhatian dari berbagai penikmat novel karena jalan ceritanya yang detail dan menawarkan tingkat fantasi yang tinggi pada jamannya.

Jujur sampe sekarang saya masih belum benar-benar membaca secara penuh ketiga novel LOTR walaupun saya punya ketiga serinya. Alasannya sederhana, buat saya ini novel yang agak berat, haha ... ^^ Kalau ada yang pernah menyempatkan diri membaca versi novel dari The Lord of the Rings, maka pasti akan sepakat bahwa membaca karya J.R.R Tolkien ini seperti membaca sebuah ’cerita-fantasi-klasik-yang-super-detail’. Berterimakasihlah pada Peter Jackson dan timnya yang dengan baik hati meringkas dan memvisualkan rangkaian cerita LOTR lewat film yang udah kita saksikan sehingga lebih mudah dinikmati. Karena bayangkan saja, untuk membentuk gambaran Middle Earth beserta kehidupan dan sepak terjang tokoh di dalamnya Tolkien sampai membentuk sebuah gambaran ’dunia imajiner’ yang luar biasa detail. Di buku ketiga Tolkien juga menyertakan sejarah kerajaan lengkap beserta tahunnya, silsilah raja-raja, peta, bahkan membentuk sistem tulisan dan bahasa. Tidak lupa Tolkien juga menyertakan cara pengucapan dan dialek dari masing-masing bahasa yang dimiliki masing-masing bangsa yang ada dalam cerita The Lord of the Rings. Yah, mungkin rasanya seperti gabungan antara membaca novel sejarah Taiko dari Eiji Yoshikawa, Eragon dari Cristopher Paollini, ditambah dengan sedikit bumbu buku sejarah SMA dulu, haha ... ^^ Mungkin karena itu juga novel ini nggak ditujukan untuk anak-anak, dan (sepertinya) juga sangat tidak populer di kalangan pembaca cewek :)

Well, bagaimanapun juga ada satu hal yang saya kagumi dari trilogi The Lord of the Rings ini. Tampaknya novel ini telah menjadi cetak biru dari beragam tema cerita bergenre medieval-fantasy. Contohnya? Tolkien adalah pihak pertama yang memperkenalkan konsep dan kata Orc, makhluk jahat dan barbar yang kini telah diadaptasi di berbagai tema cerita, terutama buku dan game. Tolkien juga berhasil membentuk gambaran dunia fantasi kuno dimana di dalamnya hidup banyak bangsa selain manusia. Peri (elves) yang memiliki tubuh tinggi, berambut pirang, hidup di hutan dan pandai memanah. Atau bangsa kurcaci (dwarves) yang digambarkan bertubuh pendek dan berewok, dimana mereka hidup di kota tambang yang luar biasa kaya di bawah tanah. Sang penyihir Gandalf, Aragorn sang Raja, si raksasa api Balrog, serta penunggang naga Penyihir Angmar dan para Nazgul telah menginspirasi beragam cerita fantasi yang kini banyak kita temui. Pengaruh dari cerita The Lord of the Rings banyak kita temukan di berbagai media, dan lebih banyak lagi yang jatuh cinta dengan dunia fantasi yang diciptakan Tolkien ini ... :)

Namun iseng-iseng saya perhatikan nampaknya Tolkien juga mendapat inspirasi dari sumber lain, terutama dari mitologi Norwegia lama. Cerita tentang cincin sakti yang dapat membawa petaka ini hampir sama dengan cerita Cincin Nibelung (Nibelunglied). Bangsa peri dan kurcaci yang ada dalam cerita The Lord of the Rings sendiri juga muncul di mitologi Norwegia kuno. Cerita tentang pedang Isildur yang akan membawa kekuatan setelah ditempa kembali juga bisa ditemukan di cerita Siegfried dan Brunhilde. Saya sedikit menyadarinya setelah nggak sengaja membaca adegan pertarungan antara Gandalf dan si raksasa api Balrog di kota tambang Moria. Dalam mitologi Norwegia kuno, pada bagian Ragnarok atau akhir dunia diceritakan dunia akan terbakar karena muncul raksasa api bernama Surt yang kebetulan memiliki deksripsi sama seperti Balrog, yakni membawa pedang dan cemeti dari api.

Yah itulah yang bisa saya ceritakan tentang The Lord of the Rings. Bukunya sendiri terakhir kali saya baca waktu mau berangkat kuliah ke Jogja dulu, dan sekarang teronggok di rak buku di rumah saya yang di Malang. Sekarang mah udah jarang banget baca novel, maen melulu kerjaannya, hahaha … :p Tapi bagaimanapun juga buku The Lord of the Rings ini adalah salah satu buku favorit saya dulu. Jadi, ada yang tertarik untuk membaca novel The Lord of the Rings ini? :D

Kamis, 12 Agustus 2010

What If ...


Ucapkanlah selamat datang pada malam

Atau pada kental kopi ini, yang telah bosan diaduk waktu

Muak mungkin, entahlah.

Kopi selalu jujur, tapi dia memilih diam


*sigh*


Kini ada badai di cangkirku


Dan kita menyebutnya Ragu


Sabtu, 07 Agustus 2010

It's a Brand New Day ...


it's time to say good bye, i guess ...
Time let go those old story. Maybe it's time to move on.
Hehehe ... This precisely like what Paulho Coelho has said ^^


Farewell. And Welcome.




Senin, 02 Agustus 2010

Di Sini Tertulis So..U..L Ma..Te ...


Saya tidak tahu bahwa acara sarapan pagi bersama Bapak (yang kebetulan datang ke Jogja pagi ini untuk acara ‘inspeksi dadakan’) bisa jadi ide buat ‘ngoceh’ di blog. Berawal dari sebuah kejadian yang sederhana sebenarnya. Dan itu terjadi pagi ini, saat kami berdua sedang duduk manis di trotoar dekat warung gudeg di salah satu sudut Jalan Gejayan. Jam 7 pagi dan kendaraan sudah mulai berebut tempat di jalan sempit di depan pasar. Tipikal jam pagi di Jogja. Hanya saja sedikit sepi karena sekarang masih musim liburan mahasiswa, jadi gak terlalu banyak sepeda motor yang berlalu-lalang. Tiba-tiba di tengah keramaian itu pandangan saya tertuju ke seberang jalan. Seorang nenek, mungkin usianya sudah sekitar 70 tahunan, terlihat berjalan pelan sambil membawa tas penuh bahan belanjaan dari pasar. Nenek ini kemudian dijemput oleh suaminya, seorang kakek yang usianya mungkin sudah sekitar 80 tahun, yang baru saya sadari semenjak tadi menunggu dengan setia dengan sepeda tuanya di pojok sebuah gang kecil. Saya sendiri sempat tidak yakin kalo si kakek bakal membonceng pulang istrinya dengan sepeda tuanya itu. Karat di rangka besi sepeda tua si kakek bahkan masih terlihat jelas dari tempat saya duduk, belum lagi belanjaan yang harus dibawa jumlahnya banyak. Tapi mungkin karena keduanya sudah melakukan ini setiap pagi, kakek dan nenek ini akhirnya bisa menata diri di atas sepeda tua itu dan meninggalkan saya sendiri yang melihat mereka menghilang di balik gang sambil termenung…


Sebuah kejadian yang sederhana banget sebenarnya, ya kan? Tapi entah kenapa pemandangan tadi pagi membuat saya jadi mikir tentang apa yang dikenal dengan ’soul mate’. Sebuah konsep yang sejujurnya nggak pernah saya pikir dengan serius sebelum ini, hehe ... :p Sebelumnya saya selalu berpikir kalo kata Soul Mate tu semacem ’bumbu wajib’ yang selalu muncul di sinetron-sinetron remaja atau semacam kata yang laris dipake di judul-judul novel buat cewek. Istilah lain yang lebih dramatis dari kata ’pacar’ ato semacemnya, pikir saya dulu. Tapi melihat kejadian sederhana pagi ini saya jadi berpikir bahwa mungkin apa yang dinamakan Soul Mate itu memang ada ya... Seseorang yang menjadi belahan jiwa kita kalo orang Jawa bilang (Garwa : Sigaraning Nyawa). Seseorang yang memang ditakdirkan untuk menemani cerita hidup kita hingga kita tua nanti. Dan lebih dari itu semua, dia adalah seseorang yang membuat kita ... lengkap.


Ya, saya akhirnya juga jadi berpikir. Suatu saat nanti kita harus mengakui bahwa telah tiba bagi kita untuk mengakhiri semua petualangan masa muda ini. Akan ada saat dimana kita bakal berhenti untuk mencari dan menjelajah, dan tiba saat untuk memutuskan dan memilih. Saat dimana kita harus merelakan ego ini dan dengan tulus menerima untuk menjadi satu dengan orang lain. Yep, seorang ’soul mate’. Semua itu karena hidup tidaklah sesederhana membuat telur ceplok di wajan teflon. Banyak pilihan dan tantangan yang tidak dapat kita hadapi sendirian. Di situlah mungkin alasan Tuhan menciptakan ’dia’, karena yakinlah nggak ada seorang pun yang diciptakan sendirian. Seorang teman setia, yang bakal menerima kita apa adanya. Sama seperti kakek nenek yang saya temui tadi pagi, akan ada seseorang yang dengan tulus menemani kita bahkan hingga kita tua nanti... ^^

Bayangkan cerita hidup bagaikan langit malam. Maka untuk menemukan ’seseorang’ itu maka rasanya seperti memandang jauh ke atas langit malam yang cerah di bulan Oktober. Akan kita temui ribuan bintang, yang datang silih berganti lewat dalam kehidupan kita. Namun dari ribuan bintang yang memenuhi jalan cerita hidup kita itu, yakinlah bahwa akan ada satu bintang yang bakal selalu menemani kita dengan setia ^^ Bintang yang dengan hangat terus berpendar terang, yang dengan setia menemani bahkan hingga langit telah menjelang fajar nanti... :)


Hahaha ... ^^ Lagi-lagi saya ngoceh nggak mutu! Wkwkwk ... Maklum lah, saya nggak seberapa pinter ngomong soal yang beginian. Entah kemasukan jin apa hari ini kok tiba-tiba jadi ngomongin soal soul mate gini :p tapi yah, saya salut banget deh ama pasangan kakek dan nenek tadi pagi. Seperti kayak kata Bapak saya yang nyeletuk sambil nyeruput teh angetnya,” Kesetiaan tu jadi barang langka ya sekarang ini ...”. Mungkin diem-diem dia juga memperhatikan kakek nenek itu juga, siapa tahu, hehehe ... :)