Kamis, 29 September 2011

In Cold Blood : A Review




Saya sendiri lupa sejak kapan saya mendengar tentang novel ini. Dari internet barangkali, entahlah, mungkin dari website Listverse.com atau semacamnya. Novel karya Truman Capote yang berjudul In Cold Blood ini memang adalah salah satu buku yang saya cari sejak lama. “ Salah satu novel yang sangat recommended buat dibaca…”, begitu judul artikel yang saya baca di internet saat itu. Tapi Ya Tuhan, sulit sekali mencari terjemahan bahasa Indonesianya. Maka ketika saya menemukan buku ini ada di rak salah satu taman bacaan langganan, tanpa pikir panjang buku ini sudah saya taruh dengan segera di meja pembayaran.

In Cold Blood adalah novel lama yang ditulis pada tahun 1965 oleh seorang jurnalis Amerika Serikat Truman Capote. Ceritanya bermula dari sebuah kasus pembunuhan ganda yang terjadi Kansas. Empat orang ditemukan meninggal di sebuah rumah, yakni sang petani kaya Herb Clutter bersama istrinya Bonnie, serta kedua anaknya yang masih remaja, Nancy dan Kenyon. Tiga nama terakhir tewas ditembak di kepala dengan senapan buru .12, sementara Herb Cuttler ditemukan dengan kondisi yang paling mengenaskan. Terbaring kaku di ruang bawah tanah dengan leher menganga nyaris putus. Kota kecil Holcomb di mana keluarga ini tinggal serta merta gempar. Mereka bertanya-tanya mengapa kejahatan ini bisa terjadi untuk sebuah alasan yang nampak tidak masuk akal. Para pelaku itu nampaknya hanya mengincar uang sejumlah 42 dollar saja dari kediaman Cuttler. Para pelaku kejahatan sendiri, si ‘setengah Indian’ Perry Smith dan ‘Dick’ Richard Hickock, dapat ditangkap kira-kira 2 bulan kemudian. Gelombang rasa tak percaya, kebencian, hingga simpati menghantam masyarakat Amerika saat kedua pelaku ini membeberkan segala hal tentang yang terjadi di kediaman Cuttler malam itu.

Novel ini bukanlah novel misteri atau detektif. Dari awal Truman bercerita lewat beberapa alur parallel yang kemudian di bagian akhir cerita secara cerdas dipertemukan kembali menjadi satu kesatuan yang utuh. Alur pertama menceritakan bagaimana perjalanan kedua pelaku dari saat masa persiapan, detail saat mereka datang di River Farm Valley untuk melakukan aksinya, hingga saat mereka mencoba kabur setelah peristiwa itu. Alur kedua melihat apa yang terjadi di kota Holcomb, terutama bagi mereka yang kehilangan teman, kekasih, orang-orang yang mereka kasihi dalam peristiwa pembunuhan di malam itu. Dan alur terakhir menceritakan usaha para petugas penegak hukum untuk menangkap kedua pelaku dan mengembalikan kehidupan yang terenggut dari kota Holcomb.

In Cold Blood adalah novel yang mencoba untuk menggali lebih dalam mengenai sebuah sebab akibat dari sebuah kejahatan yang mengerikan. Perasaan dari mereka yang ditinggalkan, harapan-harapan yang tiba-tiba harus menghilang, ambisi, kekejaman yang dihasilkan atas sebuah masa lalu yang kelam, hal-hal semacam itu. Oh ya, novel ini adalah hasil karya penting bagi Truman Capote yang dengan ini menghasilkan sebuah genre baru di dunia sastra: novel nonfiksi. Yap, seluruh cerita yang ada di dalam novel setebal 500 halaman ini sepenuhnya adalah fakta. Ia menghabiskan waktu 6 tahun untuk menyelesaikan novel ini lewat wawancara dan korespondensi yang intens dengan semua pihak. Yang saya suka dari novel ini adalah bagaimana Truman Capote mampu mengahdirkan sebuah suasana emosional yang kental dan berubah-ubah lewat sajian fakta-fakta yang ia paparkan. Caranya bercerita lugas, tidak memihak, dan apa adanya (syukurlah Bentang berhasil melakukan terjemahan yang oke punya juga). Kata-katanya tidak mendayu-dayu, khas cerita-cerita detektif, namun ia memberikan deskripsi dan pemahaman yang bagus sekali tentang perasaan dan emosi semua pihak, baik korban maupun pelaku. Di awal-awal cerita kita pasti akan berpikir bahwa kedua pelaku pantas mendapatkan hukuman yang berat atas kejahatan keji mereka. Namun di akhir-akhir cerita, setelah mendalami apa yang ada dalam pikiran para pelaku, sejarah mereka, pasti aka nada timbul simpati. Bahkan mungkin akan ada pertanyaan, “Siapa sebenarnya korban dari kejadian ini?”. Truman Capote menceritakan dengan sangat detail dan mendalam mengenai apa-apa yang terjadi saat kasus pembunuhan Cuttler terjadi, dan itu pasti akan membuat kita ternganga.

In Cold Blood mungkin bukan jenis bacaan yang bisa dinikmati di akhir minggu karena ceritanya kompleks dan muram. Tapi kalau sedang mencari bacaan yang oke dan emang suka dengan cerita misteri, buku ini bisa jadi pilihan :)



1 komentar:

beatlemania barbie mengatakan...

Pinjem bukunya dong bang