Rabu, 19 Oktober 2011

Kenapa Semut Selalu Bersalam-salaman Bila Saling Bertemu?





Mengapa semut selalu bersalam-salaman bila bertemu dengan semut lain ?

Beberapa saat yang lalu pacar saya Nur Astiti Riptaningsih berbicara tentang keheranannya mengenai tingkah laku semut. Tulisannya bisa dibaca di sini. Saya yang baru saja membacanya kemudian mendadak ingat sebuah cerita yang disampaikan Ibu saya sewaktu saya masih muda dulu. Ceritanya mengenai semut. Ya, Ibu saya menceritakan cerita tentang mengapa semut-semut selalu bersalaman satu sama lain bila bertemu dengan semut lain. Coba saja liat iring-iringan semut yang berjalan di dinding atau meja makan. Semuat yang saling bertemu selalu menyempatkan diri bersalam-salaman atau tampak menyapa semut lain yang berjalan dari arah sebaliknya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Konon begini ceritanya ...

Alkisah, pada jaman dahulu umat manusia di bumi ini sifatnya sangat bejat. Mereka minum-minum, bermain wanita, dan tidak mengindahkan perintah dan petunjuk-petunjuk yang diberikan Tuhan. Bahkan nabi Nuh yang diberi tugas oleh Tuhan guna membimbing umat manusia pun sampai frustasi dan menyerah. “Umat manusia ini sudah kelewatan,” pikir nabi Nuh. Tuhan yang mendengar doa nabi Nuh pun kemudian memutuskan untuk menggulung umat manusia yang ingkar dengan gelombang banjir yang maha hebat. Byur! Dan dunia pun tenggelam. Seperti yang sudah diketahui, sebelum banjir datang Nabi Nuh sudah bersiap-siap dengan membangun sebuah bahtera raksasa. Sebelum banjir datang Nabi Nuh mengumpulkan semua jenis hewan-hewan dan makhluk hidup yang ada di dunia di dalam bahteranya secara berpasang-pasangan. Maksudnya adalah agar kehidupan di dunia bisa kembali setelah banjir agung datang. Hewan-hewan dari berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari gajah, singa, burung, hingga ular dan kumbang semuanya masuk ke dalam bahtera sambil mengajak istri masing-masing. “Ini tugas mulia untuk melanjutkan kelangsungan jenisku”, begitu pikir binatang-binatang tersebut.

Namun setelah beberapa saat terombang-ambing di dalam bahtera raksasa tersebut, masalah kemudian muncul bagi para penghuni di dalamnya. Jumlah mereka tiba-tiba saja bertambah! Yang masuk sepasang, tiba-tiba di dalam bahtera dijumpai menjadi 3 bahkan 4. Ini adalah masalah penting karena jumlah makanan dan air yang dibawa dalam kapal hanya terbatas. Bagaimana kalau nanti terjadi kelaparan dan perebutan jatah makanan? Selidik punya selidik, akhirnya diketahui karena suasana dalam bahtera membosankan maka para pasangan hewan-hewan ini menghabiskan waktu dengan bercinta. “Biar anget, itung-itung ngabisin waktu luang ...”, begitu kata si zebra waktu ditanya nabi Nuh. Karena marah pada tingkah hewan-hewan yang nggak tau kondisi ini maka nabi Nuh kemudian memberikan sebuah peraturan baru bagi para penghuni bahtera. Hewan-hewan berjenis kelamin laki-laki diperintahkan untuk mencopot 'burung' masing-masing dan menitipkannya di dalam karung untuk sementara sampai banjir agung selesai. Para binatang pun akhirnya setuju dengan perintah ini, dan segera melaksanakannya. Karung ini kemudian ditinggalkan di pojok ruangan dan dilupakan hingga beberapa waktu.

Setelah beberapa lama, banjir agung pun usai. Air surut dan daratan akhirnya terlihat lagi. Bahtera pun akhirnya bisa mendarat. Hewan-hewan yang ada di dalam bahtera berteriak kegirangan karena banjir telah selesai. Mereka yang sangat rindu dengan daratan dan telah bosan dengan kondisi dalam bahtera berebutan berlari keluar. Gajah, rajawali, katak, semuanya segera berlari keluar untuk menyambut kehidupan baru. Binatang-binatang itu berlari hingga jarak yang cukup jauh dari bahtera ketika beruang tiba-tiba bergumam, “ Loh! Burungku kan ketinggalan di kapal!”. “OH IYAAA!!!”, jawab yang lain dengan serentak.

Kontan saja semua hewan jantan yang baru saja berlari kegirangan segera berlari berbalik arah menuju bahtera. Tujuannya ialah segera mengambil 'burung' mereka yang sebelumnya mereka titipkan di dalam karung. Kuda dari dulu telah diberi karunia dapat berlari kencang. Tentu saja ia adalah yang pertama kali sampai ke bahtera. Seketika itu juga ia segera memilih 'burung' dengan ukuran yang paling besar. “Persetan punya siapa!”, pikir kuda waktu itu. Itulah mengapa hingga kini kuda dikenal dengan kekuatan dan emm ... ukurannya. Segera saja kondisi di dalam bahtera menjadi rusuh. Semuanya berebutan mengambil 'burung' masing-masing di dalam karung.

Dari semua hewan, semut adalah hewan yang paling malang. Kisahnya sungguh memilukan. Karena badannya kecil, 'burung' yang ia titipkan di dalam karung ukurannya juga kecil. Dan selama perebutan yang terjadi, 'burung'nya ternyata jatuh dan terinjak-injak oleh hewan-hewan lain. Burung itupun hilang dalam debu. Kemanapun semut mencari, burungnya tak dapat ia temukan. Sungguh kasihan nasibnya...

Itulah alasan kenapa hingga saat ini semut selalu seakan-akan bersalam-salaman dengan semut lain bila bertemu. Sebenarnya mereka malu, hingga hanya bisa berbisik-bisik satu sama lain. Sebenarnya mereka saling berbisik, saling bertanya,

”Gimana? Burungmu udah ketemu..?”








2 komentar:

Matahari Asysyakuur mengatakan...

hahahahha fakkk ngaa :D

Aryo Adhi Condro mengatakan...

boong banget tuh