Selasa, 15 November 2011

Japan Days






Harus diakui bahwa sebenarnya saya bukan fans dari karya-karya kreatif Jepang. Maksud saya tentu saja manga atau anime yang populer itu. Bahkan boleh dibilang dulu dari jaman masih SMA saya sedikit risih kalo liat beberapa karya manga, anime, atau mungkin game yang basisnya Jepang. Alasannya sederhana: selera saya aja yang mungkin nggak cocok. Menurut saya karya kreatif Jepang seperti anime dan manga tampak terlalu kekanak-kanakan. Walaupun ceritanya berbeda satu sama lain, namun gaya dan bahkan plotnya hampir bisa ditebak. Fantasi yang dilibatkan menurut saya juga kadang terlalu tinggi dan heboh (kalo yang ini jepang uda terkenal kayaknya). Tapi ya itu kan selera. Kayak musik atau makanan. Sama aja kayak ada orang yang suka gudeg, tapi yang lain nggak suka. Sesederhana itu. 


Tapi sejak beberapa saat yang lalu saya sadari nampaknya saya harus mengubah pandangan tersebut. Ternyata banyak juga karya keren yang saya suka dari negara ini. Malahan sampai beberap saat yang lalu saya melahap baik novel, film, film kartun, hingga game yang semuanya temanya Jepang. Saya terlalu mengeneralisir sepertinya. Ya ini saya share di sini aja buat temen-temen, siapa tahu ada yang tertarik untuk menikmati :)




Twilight Samurai






Twilight Samurai atau yang dalam judul jepangnya Tasogare Seibei adalah film karya sutradara Jepang Yoji Yamada yang dirilis pada tahun 2002. Film ini dibintangi oleh Hiroyuki Sanada yang wajahnya tidak asing buat temen-temen yang suka nonton film. Hiroyuki adalah aktor Jepang yang ketenarannya kayaknya bakal mengikuti Ken Watanabe. Setahu saya dia pernah muncul sebagai samurai yang jadi rival Tom Cruise dalam the Last Samurai dan musuh utama Jackie Chan dan Chris Tucker dalam Rush Hour 3. Film ini dengan baik menceritakan kehidupan samurai dari sisi lain. Bukan sebagai jagoan pemain pedang yang tak terkalahkan, namun lebih pada unsur manusia pada tangan yang memegang pedang yang bernama katana itu. Film ini masuk sebagai nominasi Golden Globe sebagai film berbahasa asing terbaik. 






Twilight Samurai menceritakan kehidupan kehidupan samurai miskin dan sederhana yang bernama Iguichi Seibei. Seibei yang tinggal bersama kedua putrinya yang masih kecil dan ibunya yang pikun bekerja sebagai samurai rendahan di kantor daimyo setempat. Seibei adalah cerminan kehidupan samurai rendahan yang hidup di masa menjelang Restorasi Meiji, dimana mereka dihadapkan pada sebuah perubahan besar yang mau tak mau akan mengubah semua hal yang mereka percaya dan nikmati. Kmeiskinan, kehilangan istri yang sangat dicintainya, serta tanggung jawab pada keluarga membuat Seibei dikenal sebagai samurai pekerja keras. Bahkan ia dikenal si Senja karena pada saat senja di mana teman-temannya bersantai Seibei memilih pulang untuk mengurus keluarganya di rumah. Seibei yang sederhana berencana menjadi petani setelah pengabdiannya pada daimyo berakhir. Namun keadaan menjadi rumit saat ia bertemu dengan cinta masa kecilnya Tomoe, berselisih dengan mantan suami Tomoe yang seorang petinggi bakufu, hingga diharuskan untuk membunuh seorang ahli pedang pemberontak yang bernama Yogo Zen'emon. 


Taiko 






Taiko adalah novel klasik karya pengarang terkenal Jepang yang juga pengarang novel Musashi, Eiji Yoshikawa. Novel ini kurang lebih tebalnya 1000 halaman, jadi saya sendiri benernya juga belum rampung bacanya. Buku ini  sudah saya cari lama sekali karena konon basis karya-karya populer macam film dan novelyang bertemakan Sengoku Jidai salah satunya disarikan dari novel ini. Oh ya, saya sebenarnya suka membaca cerita sejarah Jepang terutama jaman samurai. Taiko menceritakan kondisi Jepang pada masa Sengoku Jidai, atau masa keruntuhan Ke-Shogun-an Asakura. Pada masa itu para pemimpin provinsi dari berbagai daerah di Jepang, atau yang dikenal dengan daimyo, saling berebut kekuasaan dan tanah guna menjadi penakluk utama Jepang. Sengoku Jidai adalah masa yang sangat historis di jepang, karena pada masa inilah berbagai kisah kephlawananan dan pertempuran muncul. 


Ada 3 jendral pada masa Sengoku jidai yang paling dikenal karena jasa mereka berhasil menyatukan Jepang. Mereka adalah Oda Nobunaga yang terkenal bengis, Hideyoshi Totomi yang cerdik dan rendah hati, dan yang terakhir Tokugawa Ieyasu yang waspada dan ahli strategi. Taiko sebenarnya adalah kisah biografi Hideyoshi Toyotomi, salah satu dari jendral paling terkenal pada jaman Sengoku Jidai yang hidupnya hanya berawal sebagai petani namun akhirnya berhasil menyatukan Jepang. Hideyoshi yang wajahnya seperti monyet hidupnya terlunta-lunta sebagai petani sedari kecil. Walaupun begitu, Hideyoshi yang terkenal karena kecerdikannya dan kemampuannya untuk merebut hati orang lain akhirnya berhasil menjadi orang yang paling dipercaya oleh Oda Nobunaga. Taiko adalah novel sejarah yang mendetail. Yang saya kagumi dari novel ini adalah saya pikir dulu karya-karya klasik Jepang pasti bicara soal prinsip dan jalan hidup kaku seorang samurai, namun ternyata novel ini berbicara lain. Kehidupan samurai ditunjukkan dengan sangat mandalam dan cenderung humanis.









Minggu, 13 November 2011

Mengapa Saya Suka Sekali Cerpen





Orang memiliki pilihan masing-masing dalam membaca buku-buku fiksi. Pilihan-konsumsi-sastra, kalo boleh saya bilang begitu. Pacar saya misalnya suka sekali membaca novel. Entah sudah berapa novel yang sudah dia beli. Saya sampai geli sendiri kalau melihat betapa takutnya dia kalo saya ajak ke toko buku semacam Gramedia atau Toga Mas. Takut tergoda beli novel katanya. Dan biasanya memang ia selalu tergoda. Wajahnya terlihat lucu sekali saat lewat ke bagian rak buku yang sudah jadi lokasi favoritnya di toko buku itu, bimbang antara perasaan ingin berhemat dan dorongan ayo-cepetan-beli dari tumpukan buku yang ada di depannya. Dan kalau saya perhatikan novel-novel yang ia beli punya karakter yang sama. Walaupun saya sendiri juga kurang begitu tahu apa karakter itu tapi itu membuat kekhasan dari dirinya. Saya sendiri di sisi lain punya minat yang berbeda. Walaupun kami sama-sama suka sekali membaca, tapi saya lebih suka membaca cerpen.

Seingat saya mungkin majalah Bobo dan Mentari Putera Harapan yang waktu itu memperkenalkan saya dengan cerpen. Cerita-cerita tentang Abu Nawas atau semacamnya dulu pernah sangat saya gemari saat masih duduk di bangku SD. Dan sampai sekarang saya masih suka membaca cerpen. Dan tentu saja, Kompas hari Minggu adalah koran yang biasanya saya tunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan karena kolom cerpennya (dan komik Benny dan Mice tentunya). Layaknya seorang mahasiswa yang sudah punya warung langganan dengan tukang masak favoritnya, maka bisa diandaikan bahwa Kompas adalah warung favorit sementara penulis-penulis cerpen veteran seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Gus Tf Takai, dan Kuntowijoyo adalah koki-koki idola saya. Buku-buku kumpulan cerpen terbaik Kompas yang biasanya selalu diterbitkan di akhir tahun selalu jadi buku yang saya tunggu-tunggu. Ini sudah berlangsung lama, sehingga baru saya sadari bahwa saya sebenarnya punya penulis dan cerita favorit. Aneh juga rasanya kalau ingat saya yang anak-iklan ini, yang tiap hari bergaul dengan ide-ide kreatif, brand, desain, dan tetek-bengek semacam itu punya idola sendiri di bidang sastra. Tapi ya bagaimana lagi, saya sendiri juga bingung. Jadi, kenapa harus cerpen? 

gambar diunduh dari sini


Cerpen selalu singkat. Tak seperti novel, alurnya lebih lugas dan mudah dipahami. Saya sendiri sebenarnya adalah orang yang cepat bosan, sehingga saya rasakan ke-singkat-an cerpen sangat pas. Alurnya cepat, namun isinya sarat dan plotnya penuh. Dan buat saya cerpen itu seperti secangkir kopi hangat. Diseduh dengan sedikit gula dan diminum segera sesaat kita bangun pagi. Rasa pahitnya membangunkan diri, membuat mata menjadi lebih terbuka sementara rasa manisnya yang samar menciptakan sebuah perasaan dekat. Cerpen-cerpen yang ditulis di harian Kompas selalu saya rasakan menimbulkan perasaan yang sama. Jarang sekali cerpen berbicara tentang cerita manis kehidupan. Kalau pahit sih sering. Dalam Jejak Tanah karya Danarto misalnya, isinya menceritakan bagaimana repotnya sebuah keluarga karena sang ayah yang seorang birokrat mayatnya tak diterima bumi karena dosa yang ia perbuat saat menggusur paksa keluarga miskin. Atau dalam cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian karya Avianti Armand yang isinya meceritakan perasaan kosong seorang Ibu yang melihat anaknya membunuh ayahnya karena tak tahan melihat Ibunya disiksa selama bertahun-tahun. Cerpen selalu saya liat sebagai sebuah refleksi atas apa yang terjadi di sekitar kita sehari-hari. Sebuah realitas dalam bentuk fiksi kalau saya menyebutnya. Realitas. sayangnya, tidak selalu manis madu layaknya sepiring wafel hangat yang disiram saus apel. Realitas sering kali pahit, dan kepahitan itu terjadi di sekitar kita. Dan cerpen menurut saya selalu bisa mengembalikan saya ke kesadaran itu. Menerima dan mengerti kenyataan sosial yang memang rasanya tak selalu manis. Seorang etnis Cina yang diperkosa habis-habisan saat terjadi kerusuhan '98, perasaan pensiunan yang menunggu kematian tanpa ada keluarga yang menemani, seorang anak yang tanpa sengaja melihat Ibu dan selingkuhannya bermain cinta, itulah kenyataan. dan hal-hal semacam itu terjadi di sekitar kita. Realitas yang apa adanya, yang mesti diterima. Tentu kita boleh saja menutup mata dan menganggap bahwa peristiwa-peristiwa pahit itu tidak terjadi, misalnya dengan menghindari kolom tertentu di surat kabar atau mengganti channel televisi saat acara berita. Tapi itu toh juga tidak mengubah apapun. Hal-hal buruk tetap terjadi dan (sayangnya) dunia tetap berputar. Secara pribadi saya sebenarnya tidak suka dengan karya-karya populer semacam Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, atau Kambing Jantan. Terlalu mendayu-dayu menurut saya. Mungkin saya saja yang aneh, tapi ya itu kan selera. Kalau orang lain berpikiran lain nggih monggo. 


Kuntowijoyo 

Seno Gumira Ajidharma


Sampai sejauh ini penulis yang menjadi favorit saya ada dua. Yang pertama adalah Kuntowijoyo dan yang kedua adalah Seno Gumira Ajidharma. Saat saya tahu kalau Prof. Kuntowijoyo yang juga guru besar Fakultas Sastra UGM telah wafat beberapa saat yang lalu rasanya saya jadi sedih. Karya-karya beliau selalu saya sukai, seperti Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, Rumah Yang Terbakar, Pistol Perdamaian, dan Tawanan. Gaya yang diambil Kuntowijoyo selalu khas. Rendah hati, sederhana, serta kental dengan nuansa Jawa namun punya kedalaman. Tidak heran cerpen-cerpennya sudah jadi langganan anugerah cerpen terbaik tahunan dari Kompas. Sementara Seno Gumira Ajidharma ... well, saya rasa sudah banyak orang yang mengenal dan mengaguminya. Karya-karya Seno selalu menarik untuk dibaca. Saya suka sekali gaya penulisan Seno yang khas, mengingatkan kita pada dialog-dialog teater. Cerpennya yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku dan Sembilan Semar adalah favorit saya. Saya dengar beliau juga baru saja mendapatkan penghargaan untuk cerpen terbaik tahun 2010 lalu untuk cerpennya yang berjudul Dodolit Dodolibret. Saya juga menyukai karya-karya penulis veteran lain seperti Jujur prananto, Danarto, Gus Tf Takai, serta Bre Redana. 


Yok baca cerpen !  

   
    

Kamis, 10 November 2011

Rise and Shine Creative Com UGM !




Akhirnya kita bisa 'ngomong' juga! 
Senang sekali bisa menjadi bagian dari saat kebangkitan cah-cah kreatif jurusan komunikasi UGM ini. Dulu semasa saya masih di awal-awal kuliah, sepertinya bagian kreatif jurusan komunikasi ini terutama iklan bisa dibilang belum ada gebrakan besar. Bidang lainnya kayak foto atau film juga diisi prestasinya ama orang itu-itu aja, kayak Awe ma Yogi. Mungkin cuman duo Mas David dan Mbak Tami yang waktu itu bisa buat UGM 'ngomong' di dunia kreatif iklan luar sana dengan menang banyak kompetisi iklan. Yang lainnya masih belum keliatan. Mungkin salah satu penyebabnya karena Deadline yang jadi tempat kumpulnya anak iklan masih awal-awal dibentuk, jadi masih belum bisa kasih 'sesuatu' yang beneran oke buat anggotanya. Atau mungkin dulu emang bidang iklan nggak populer di jurusan kita? Entahlah. Tapi btw saya yang dulu juga pernah gabung di Deadline juga yang paling males dateng, haha ... :D 


Tapi bravo! Nampaknya sekarang saat kebangkitan cah-cah kreatif UGM sudah dateng. Dimulai dengan prestasi luar biasa Mbak Loli dan Mbak Damar di BG Award, yang akhirnya bisa nunjukin kalo kita anak komunikasi UGM punya sesuatu yang lebih buat ditunjukin. Saya yang waktu itu bantu-bantu jadi desainer mereka jadi ikut bangga dan banyak belajar juga. Lanjut ke Communination yang diadakan anak-anak Unmu Malang dimana anak-anak komunikasi menggila habis-habisan. Salut buat Doppy, Matahari, Ipeh, dan teman-teman lain :)  Luar biasa! Dan prestasi besar yang sangat perlu dikasi selamat mungkin adalah perubahan besar dalam Deadline yang pertama dilakukan Yustan, yang sekarang dilanjutkan Andien ma Hawwin. Kaget juga anak-anak angkatan bawah bisa ditarik buat concern ke iklan. Maklum, jaman dulu watu saya masih masuk Deadline kayak anak buangan gitu. Semacam kalah pamor sama PPC atau Kine yang emang objek 'kajian'nya udah populer duluan. 

Saya bersyukur sekali saya dan Matahari kemarin akhirnya bisa dapet gold untuk kategori Ad Student, dan Yogi untuk Young Film Director di ajang Pinasthika Creative Festival 2011. Kenapa? Salah satunya karena kita bisa membungkam dominasi universitas tetangga yang dulu nampak tak terkalahkan :p haha ... Sekarang giliran kita dong. Saya juga ingin mengicapkan selamat untuk Cahya Purusatama dan Yustan Muhammad Agil yang berhasil jadi finalis Caraka Creative Competition 2011 :D  Kurang BG doang, dan lengkap deh.  Akhirnya kita bisa bicara. 

Selagi menunggu pengumuman finalis BG Award, saya cuman pengen mengucapkan selamat berkarya nggo kabeh cah-cah kreatip komunikasi UGM! :)  Bukan cuman iklan aja, tapi semuanya. Salut buat Ajeng ma Cahya beserta tim masing-masing yang kemarin baru bikin film pendek untuk kompetisi GoodDay. Juga Bu sutradara April beserta astradanya Titi yang nampaknya masih belum menunjukkan keengganan untuk berhenti menghasilkan karya. Yogi yang karya-karyanya makin 'menggila'. Ojan dan Beje yang kian luar biasa di dunia crafting (dua orang ini sudah dewa tingkatannya). Nggo cah-cah 2009 ke atas juga selamat berkarya. 

Mari bangkit dan menghasilkan sesuatu! 







Rabu, 09 November 2011

Bersama Titik Air Dia Datang









Bersama hujan hari ini, semua ingatan tentang cerita setahun lalu datang bersama
jejak lincah titik air di jendela kamar :) 

terima kasih ...