Minggu, 13 November 2011

Mengapa Saya Suka Sekali Cerpen





Orang memiliki pilihan masing-masing dalam membaca buku-buku fiksi. Pilihan-konsumsi-sastra, kalo boleh saya bilang begitu. Pacar saya misalnya suka sekali membaca novel. Entah sudah berapa novel yang sudah dia beli. Saya sampai geli sendiri kalau melihat betapa takutnya dia kalo saya ajak ke toko buku semacam Gramedia atau Toga Mas. Takut tergoda beli novel katanya. Dan biasanya memang ia selalu tergoda. Wajahnya terlihat lucu sekali saat lewat ke bagian rak buku yang sudah jadi lokasi favoritnya di toko buku itu, bimbang antara perasaan ingin berhemat dan dorongan ayo-cepetan-beli dari tumpukan buku yang ada di depannya. Dan kalau saya perhatikan novel-novel yang ia beli punya karakter yang sama. Walaupun saya sendiri juga kurang begitu tahu apa karakter itu tapi itu membuat kekhasan dari dirinya. Saya sendiri di sisi lain punya minat yang berbeda. Walaupun kami sama-sama suka sekali membaca, tapi saya lebih suka membaca cerpen.

Seingat saya mungkin majalah Bobo dan Mentari Putera Harapan yang waktu itu memperkenalkan saya dengan cerpen. Cerita-cerita tentang Abu Nawas atau semacamnya dulu pernah sangat saya gemari saat masih duduk di bangku SD. Dan sampai sekarang saya masih suka membaca cerpen. Dan tentu saja, Kompas hari Minggu adalah koran yang biasanya saya tunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan karena kolom cerpennya (dan komik Benny dan Mice tentunya). Layaknya seorang mahasiswa yang sudah punya warung langganan dengan tukang masak favoritnya, maka bisa diandaikan bahwa Kompas adalah warung favorit sementara penulis-penulis cerpen veteran seperti Seno Gumira Ajidarma, Jujur Prananto, Gus Tf Takai, dan Kuntowijoyo adalah koki-koki idola saya. Buku-buku kumpulan cerpen terbaik Kompas yang biasanya selalu diterbitkan di akhir tahun selalu jadi buku yang saya tunggu-tunggu. Ini sudah berlangsung lama, sehingga baru saya sadari bahwa saya sebenarnya punya penulis dan cerita favorit. Aneh juga rasanya kalau ingat saya yang anak-iklan ini, yang tiap hari bergaul dengan ide-ide kreatif, brand, desain, dan tetek-bengek semacam itu punya idola sendiri di bidang sastra. Tapi ya bagaimana lagi, saya sendiri juga bingung. Jadi, kenapa harus cerpen? 

gambar diunduh dari sini


Cerpen selalu singkat. Tak seperti novel, alurnya lebih lugas dan mudah dipahami. Saya sendiri sebenarnya adalah orang yang cepat bosan, sehingga saya rasakan ke-singkat-an cerpen sangat pas. Alurnya cepat, namun isinya sarat dan plotnya penuh. Dan buat saya cerpen itu seperti secangkir kopi hangat. Diseduh dengan sedikit gula dan diminum segera sesaat kita bangun pagi. Rasa pahitnya membangunkan diri, membuat mata menjadi lebih terbuka sementara rasa manisnya yang samar menciptakan sebuah perasaan dekat. Cerpen-cerpen yang ditulis di harian Kompas selalu saya rasakan menimbulkan perasaan yang sama. Jarang sekali cerpen berbicara tentang cerita manis kehidupan. Kalau pahit sih sering. Dalam Jejak Tanah karya Danarto misalnya, isinya menceritakan bagaimana repotnya sebuah keluarga karena sang ayah yang seorang birokrat mayatnya tak diterima bumi karena dosa yang ia perbuat saat menggusur paksa keluarga miskin. Atau dalam cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian karya Avianti Armand yang isinya meceritakan perasaan kosong seorang Ibu yang melihat anaknya membunuh ayahnya karena tak tahan melihat Ibunya disiksa selama bertahun-tahun. Cerpen selalu saya liat sebagai sebuah refleksi atas apa yang terjadi di sekitar kita sehari-hari. Sebuah realitas dalam bentuk fiksi kalau saya menyebutnya. Realitas. sayangnya, tidak selalu manis madu layaknya sepiring wafel hangat yang disiram saus apel. Realitas sering kali pahit, dan kepahitan itu terjadi di sekitar kita. Dan cerpen menurut saya selalu bisa mengembalikan saya ke kesadaran itu. Menerima dan mengerti kenyataan sosial yang memang rasanya tak selalu manis. Seorang etnis Cina yang diperkosa habis-habisan saat terjadi kerusuhan '98, perasaan pensiunan yang menunggu kematian tanpa ada keluarga yang menemani, seorang anak yang tanpa sengaja melihat Ibu dan selingkuhannya bermain cinta, itulah kenyataan. dan hal-hal semacam itu terjadi di sekitar kita. Realitas yang apa adanya, yang mesti diterima. Tentu kita boleh saja menutup mata dan menganggap bahwa peristiwa-peristiwa pahit itu tidak terjadi, misalnya dengan menghindari kolom tertentu di surat kabar atau mengganti channel televisi saat acara berita. Tapi itu toh juga tidak mengubah apapun. Hal-hal buruk tetap terjadi dan (sayangnya) dunia tetap berputar. Secara pribadi saya sebenarnya tidak suka dengan karya-karya populer semacam Laskar Pelangi, Ayat-ayat Cinta, atau Kambing Jantan. Terlalu mendayu-dayu menurut saya. Mungkin saya saja yang aneh, tapi ya itu kan selera. Kalau orang lain berpikiran lain nggih monggo. 


Kuntowijoyo 

Seno Gumira Ajidharma


Sampai sejauh ini penulis yang menjadi favorit saya ada dua. Yang pertama adalah Kuntowijoyo dan yang kedua adalah Seno Gumira Ajidharma. Saat saya tahu kalau Prof. Kuntowijoyo yang juga guru besar Fakultas Sastra UGM telah wafat beberapa saat yang lalu rasanya saya jadi sedih. Karya-karya beliau selalu saya sukai, seperti Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, Rumah Yang Terbakar, Pistol Perdamaian, dan Tawanan. Gaya yang diambil Kuntowijoyo selalu khas. Rendah hati, sederhana, serta kental dengan nuansa Jawa namun punya kedalaman. Tidak heran cerpen-cerpennya sudah jadi langganan anugerah cerpen terbaik tahunan dari Kompas. Sementara Seno Gumira Ajidharma ... well, saya rasa sudah banyak orang yang mengenal dan mengaguminya. Karya-karya Seno selalu menarik untuk dibaca. Saya suka sekali gaya penulisan Seno yang khas, mengingatkan kita pada dialog-dialog teater. Cerpennya yang berjudul Sepotong Senja Untuk Pacarku dan Sembilan Semar adalah favorit saya. Saya dengar beliau juga baru saja mendapatkan penghargaan untuk cerpen terbaik tahun 2010 lalu untuk cerpennya yang berjudul Dodolit Dodolibret. Saya juga menyukai karya-karya penulis veteran lain seperti Jujur prananto, Danarto, Gus Tf Takai, serta Bre Redana. 


Yok baca cerpen !  

   
    

Tidak ada komentar: