Jumat, 23 Desember 2011

Tentang Demonstrasi Mahasiswa Jaman Sekarang



Gambar diambil dari sini


Ngomong-ngomong Soal Demonstrasi Mahasiswa …

Lima hari yang lalu saya yang lagi iseng-iseng buka artikel di website Kompas menemukan berita yang menarik. Judulnya saja sudah cukup menggoda. “Mahasiswa ITB Didemo Mahasiswa Lain di Bandung Karena Menolak Untuk Ikut Demo”, atau mungkin kurang lebih seperti itu. Silakan baca disini kalau berminat. Singkat kata inti dari artikel tersebut ialah adanya demo dari beberapa mahasiswa yang berasal dari berbagai universitas di Bandung yang ditujukan pada para mahasiswa ITB. Alasannya karena para mahasiswa ITB ini dianggap kurang solider dengan tidak menghadiri demonstrasi bersama untuk mengenang Sondang Hutagalung yang sebelumnya sudah dijadwalkan. Saya nggak ngerti kalo disuruh komentar tentang masalah ini, tapi kalo ketawa ngakak saya bisa. Menarik sekali :) Tapi sejujurnya, saya sendiri lebih tertarik membaca komen-komen yang ditinggalkan pembaca di bawah artikel tersebut. Membuat kita berpikir tentang arti demonstrasi di jaman sekarang kalo boleh saya bilang. Apalagi dari kita sendiri, dari sudut pandang mahasiswa.

Kita semua tahu kalo pandangan kita (mahasiswa) tentang demonstrasi itu bermacam-macam. Mereka yang tidak setuju berargumen bahwa demonstrasi adalah tindakan yang sia-sia. Berkumpul seharian di bawah terik matahari sambil berteriak serta membawa papan-papan tulisan untuk beberapa dari kita dianggap tidak masuk akal. Tidak ada perubahan yang muncul dari aksi demonstrasi selain jalanan yang macet, begitu mungkin kurang lebih pikiran mereka. Sementara di sisi lain mereka yang setuju pada aksi demo percaya bahwa demontrasi adalah cara untuk menunjukkan kepedulian serta tuntutan mereka terhadap sebuah kondisi sosial yang tak diinginkan. Demontrasi adalah bentuk perlawanan dan perjuangan. Dari sini muncul akhirnya pandangan-pandangan negatif antara satu pihak dengan pihak yang lain. Pihak yang tidak setuju melihat sebuah aksi demonstrasi sebagai sebuah kebodohan, tindakan sia-sia, dan tidak ‘intelek’. Sementara yang setuju dengan aksi demonstrasi melihat pihak yang kontra sebagai pihak yang pasif, tidak memiliki cukup kepedulian (well, untuk yang ini harus diakui ada benarnya), bahkan sampai mencap bahwa kelompok yang kontra adalah simbol dari kelompok yang mereka lawan (burjois, hedonis, arogan, bla bla bla).      

Jadi, apakah saya pro atau kontra dari aksi demonstrasi? Lepas dari fenomena ‘demonstrasi berbayar’ atau semacamnya, sejujurnya saya pikir aksi demontrasi punya niat yang baik. Tidak semua dari kita punya kepedulian terhadap sesama. Kebanyakan dari kita lebih suka ‘belajar-tekun-lulus-kerja-hidup-bahagia’. Itu tak salah, tapi jelas lebih tak salah lagi teman-teman kita yang punya kepedulian sosial itu, yang memikirkan bagaimana perasaan korban penggusuran tanah atau pembantaian orang utan misalnya. Mereka ini tidak menjadi hipokrit dengan menutup mata atas kenyataan pahit di sekeliling. Dan at least mereka berbuat sesuatu. Yang kita bicarakan adalah demonstrasi, dan demontrasi adalah cara. Jadi daripada mempertanyakan apakah mahasiswa pro atau kontra dengan demonstrasi, mungkin pertanyaan yang semestinya ditanyakan  adalah : Apakah demonstrasi memang cara yang efektif untuk menuntut sebuah perubahan?

Anggap saja ini adalah sebuah alternatif masukan yang saya berikan buat teman-teman mahasiswa. Entahlah kalo pendapat teman-teman, tapi menurut saya demonstrasi jaman sekarang sudah sangat dipertanyakan efektivitasnya. Bukan hanya karena pihak yang dituntut, misalnya pemerintah atau rektorat kini sudah mulai capek (atau terbiasa) mendengar aksi demo, tapi yang lebih penting juga karena demonstrasi lama kelamaan kian sulit menarik perhatian massa. Masyarakat jadi kian tidak simpatik dengan aksi demo. Dan itu adalah masalah besar, karena syarat utama dari sebuah tuntutan atau gerakan perubahan bisa sukses adalah kalau suara tuntutan itu memang ‘cukup keras’ untuk didengar. Jadi daripada fokus ke pihak yang dituntut, kenapa tidak fokus untuk menarik perhatian massa saja? Nah, ada yang pernah dengar tentang people movement atau mungkin Social Campaign? Maaf kalo istilah saya salah, tapi maksud saya seperti ini kurang lebih. People movement mungkin bisa diartikan semacam gerakan sosial yang melibatkan banyak orang. Ini adalah sebuah alternatif cara yang bisa dilakukan teman-teman selain melakukan demonstrasi, untuk menarik perhatian massa dengan efektif. Contoh people movement yang baik misalnya gerakan Occupy Wall Street atau Gerakan Coin Prita. Sedang social campaign yang berhasil seperti Gerakan Upacara bendera Online yang kemaren sempat jadi pembicaraan.


Gerakan-gerakan ini punya efek yang luar biasa karena masyarakat secara sadar dan suka rela ikut tanpa ada paksaan. Ini adalah sebuah alternatif cara yang bisa dilakukan teman-teman selain melakukan demonstrasi. Media adalah kunci utama keberhasilan dari people movement ini. Ingat kalo sekarang masyarakat sudah sangat terkoneksi dengan berbagai macam media, terutama media online. Satu hal yang juga mesti kita ingat tentang massa adalah mereka resisten terhadap aksi-aksi yang sifatnya non-simpatik dan keras. Demonstrasi termasuk di dalamnya. Massa lebih tertarik pada aksi yang melibatkan nilai-nilai positif. Teman-teman kita pun sudah banyak yang melakukannya. Misalnya senior saya Lolitya Anindita dan Damar Wijayanti yang membuat gerakan ‘Hand A Book’. Inti gerakan ini sederhana yakni menghindari penyia-nyiaan buku ajar kuliah apabila kita naek ke tahun berikutnya dnegan cara memberikannya ke adek-adek kelas kita yang siapa tahu membutuhkan. Walaupun sederhana, seperti kata teman saya Yustan Muhammad Agil, tapi efeknya besar dan punya long-lasting value.



Gerakan-gerakan sosial seperti ini memang butuh konsep dan perencanaan yang baik dan matang. Harus dipikirkan bagaimana reaksi massa, bagaimana pengaturan jalannya gerakan, dan lain sebagainya. Juga harus dipikirkan apa saja pesan yang mesti disampaikan dalam media-media yang dipakai seperti twitter atau poster. Walaupun sulit, apabila berhasil hasilnya akan benar-benar membuat sebuah perubahan. Walalupun sedikit tapi itu bermakna, bukankah itu yang kita semua harapkan? Gerakan sosial ini jelas tidak se-heroik melakukan demonstrasi. Tidak akan membuat kita merasa menjadi seorang ‘pejuang-muda-penyelamat-bangsa’. Tapi itu kalau yang Anda cari adalah harga diri dan kebanggan. Kalo Anda benar-benar ingin membuat perubahan dan berbuat untuk sesama, ya mungkin alternatif di atas bisa dijadikan pilihan … 


1 komentar:

Japra The Red Ranger mengatakan...

Aseeeeeeeekkkk...
Mantep nih blognyaaaaaaaaaa....
Follow Aaaaaaaaaaaaahhh...