Rabu, 02 Mei 2012

Catatan Anak Iklan bag. 1

 
Walapupun terdengar klise toh saya tetap harus mengatakan bahwa rasanya waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemaren sejak saya ikut Ospek pertama kali dan dalam sekejap mata saya sudah melihat seseorang dengan label 'mahasiswa angkatan tua' di dahinya saat melihat ke cermin pagi ini. Sudah waktunya untuk mengatakan, "Selamat Tinggal Mimpi Masa Muda. Halo Dunia Nyata! ".

    Mungkin karena perasaan-perasaan itu yang membuat saya sempat merenung untuk beberapa saat di perjalanan pulang ke kos hari ini. Selama 4 tahun ini, apa ya yang sudah berubah? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul (dan sialnya terngiang-ngiang) di kepala. Maksud saya, ini bukan tentang sebuah renungan kalbu tentang dosa saya selama ini atau semacamnya. Mungkin lebih ke apa yang berubah dari pola pikir saya sejak 4 tahun belakangan ini. Tentang bagaimana saya melihat dunia setelah saya belajar selama itu di bidang yang sudah saya pilih untuk menjadi jalan hidup: iklan.

    Saya percaya bahwa masing-masing bidang yang kita geluti membentuk pandangan kita atas semua hal. Mulai dari hal-hal sepele seperti memilih model celana dalam sampai tentang bagaimana cara kita melihat 'hidup' ini. Ayah saya misalnya, adalah seorang dosen sejarah di sebuah universitas. Beliau punya bermacam-macam sifat dan sikap, tapi kalau saya harus menyebut satu sifat yang paling utama adalah ayah saya orangnya mudah sekali mengeneralisasi. Orang Batak itu pemarah, gadis Padang itu pelit, orang gay itu mudah meledak, hal-hal seperti itu. Lepas dari apakah pandangan seperti itu benar atau salah, yang jelas saya yakin bahwa bidang 'sejarah' yang dipilih Ayah saya untuk menjadi hidupnya sebenarnya telah membentuk pandangan hidupnya (yang telah belajar teori-teori sejarah pasti bisa mengerti maksud saya). Atau ibu saya, seorang dosen akuntansi yang terlihat paling perhitungan dan detail di keluarga kami. Dan sekarang saya pun juga ingin melihat sejauh apa pandangan saya sudah berubah sejak saya masuk fisipol dengan pakaian ospek konyol 4 tahun yang lalu. Bukan hal yang penting, saya tahu. Tapi akan sangat berguna saat suatu hari nanti saya bertemu seorang teman lama dari SMA dan setelah berbincang agak lama kemudian berkata," Kamu berubah. Kamu bukan yang dulu aku kenal ... ".

ABU - ABU

    Yep. Buat saya susah sekali saat ini untuk menilai sesuatu itu hitam atau putih sekarang. Apakah prostitusi itu salah? Apakah merokok itu dosa dan harus dibumihanguskan? Apakah seorang teman yang hamil di luar pernikahan adalah tanda bahwa teman saya itu gadis yang 'nggak bener'? Efek dari terlalu sering mengulik secara dalam perasaan orang lain untuk mencari insight adalah Anda bakal menyadari bahwa sebuah masalah tak pernah hitam dan putih. Cerita manusia sangat kompleks, dan semakin kita dalam menggalinya, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepala. Apakah salah kemudian kalau seorang anak yang hidup di bawah tuntutan sekolah dan keharusan berperestasi dari orang tua menjadi seorang brandalan dan suka tawuran? Buat beberapa orang batas-batas ini jelas sekali. Boleh dibilang saya menjadi sensitif sekali melihat banayak hal. Dan sejujurnya semakin saya lebih dalam melihat ke dalam masalah dan pikiran orang lain, semakin yakin saya bahwa manusia itu sebenarnya lemah sekali ...

Tidak ada komentar: