Selasa, 30 Oktober 2012

Sedikit Lanturan Malam Ini



"The true tragedy of couple relationship, do you know what is that? 
Women keep waiting for their men to change.
And men keep waiting for women to stay the same and won't change.
Both sides will find only dissapointment ... " 

Detective Rose Teller in Luther 


Kutipan dari mini seri Luther di atas saya tuliskan hanya karena saya menyukainya jadi yah ... jangan terlalu dipikirkan. Saya menemukan kata-kata itu memang benar untuk banyak hubungan yang pernah saya temui. Terlalu benar malah. Mungkin karena itu juga banyak teman-teman saya yang tidak menyadarinya, sampai akhirnya salah satu dari dua orang yang pernah memikirkan satu sama lain saat memandang langit-langit kamar mereka ini memutuskan untuk berpisah. 

Selamat malam semuanya. Hari ini saya menyelinap dari kesibukan pekerjaan di kantor untuk sejenak mampir di warnet, mendengarkan lagu-lagu John Mayer, dan siapa tahu saya mungkin akan memesan segelas float (atau entahlah apa namanya, dari gambar menu di samping saya gelas berwarna pink itu kelihatan menggoda sekali). Harus saya akui ini hari yang sibuk. banyak yang harus dikerjakan di kantor sementara mood mengerjakan skripsi saya tidak pernah mau berbaikan dengan pertanyaan yang ditanyakan Ibu tentang kapan saya lulus. Harus saya akui bahwa akhir-akhir ini saya menjadi sedikit bosan dengan pekerjaan, dengan ini-itu yang rasanya semakin monoton.  

Saya rindu dengan pantai. Rindu dengan teman-teman yang sekarang pelan-pelan sudah berada di jalan masing-masing. Rindu dengan keasyikan masa lalu. Rindu sekali dengan keasyikan membuat film dan poster. 



Beruntung kemarin Titi dan April bersedia mengajak saya untuk bantu-bantu bikin film mereka di daerah Nol kilometer. Btw menurut saya film ini asik dan cukup keren lho. Sayang sekali tidak tembus di young Film Director Pinasthika tahun ini. Yeah well, setidaknya keinginan saya buat 'merasakan' lagi suasana bikin video dan film sedikit terobati. 



Saya dan Titi kemarin juga menyempatkan diri berkunjung ke Gembira Loka. Sungguh selo sekali. Tapi sebuah pengalaman yang asik dan menyenangkan :) 



Carilah 10 perbedaan 






Rabu, 24 Oktober 2012

Mari Njoged Dulu






Sisa-sisa keseloan jaman awal-awal PNI dulu. 
Yang versi satunya sudah pernah saya upload disini.
Yang ini versi yang agak geser audieonya, 
jadi antara jogedan dan lagunya gak pas di tengah.

Tapi sumpah sebenarnya versi ini yang liukan penarinya hot dan membahana. 

Asu lah, rupane Kotek ro Ciprut marai ngekek tenan! 
Hahahaha FAK! 


Minggu, 21 Oktober 2012

Jangan Mau Punya Pacar Anak Film






Senin ini saya sedikit selo, alhasil munculah keinginan untuk menuliskan hasil obrolan saya dan pacar sekitar 2 minggu yang lalu. Sebenarnya topik yang kami bicarakan saat itu bermacam-macam, tapi intinya kurang lebih begini: 

"Pikir-pikir dulu  deh kalo mau pacaran ama orang film ... "

Mungkin harus saya jelaskan arti orang film di sini. Maksud kami orang yang ngerti film nggak cuman nonton doang. Kru, termasuk di dalamnya editor, sutradara, atau siapapun yang mengerti sedikit banyak soal seluk beluk film. Mungkin teman anda yang ngambil jurusan film di komunikasi atau ikut klub film misalnya. Siapapun yang mau pacaran sama orang-orang ini ada baiknya untuk yah ... menimbang kembali keputusannya.

Kesimpulan ini muncul saat kami berdua iseng-iseng saja memutuskan untuk menonton film di bioskop sekitar 2 minggu yang lalu. Kebetulan saat itu salah satu film yang sedang rilis adalah seri Resident Evil terbaru, Retribution. Kebetulan pacar saya adalah penyuka film zombie semacam seri Walking Dead. Aneh memang. Well, singkat cerita setelah beberapa saat kami duduk manis di kursi merah dan menikmati jalannya film, kami segera berdua sepakat akan satu hal : Resident Evil Retribution ini adalah film yang mengecewakan.   



Entah saya harus mulai dari mana. Di awal kami berharap bahwa di flm ini akan ada lebih banyak cerita yang bisa dieksplor dari seri Resident Evil, minimal seperti seri sebelumnya. Banyak sekali adegan-adegan yang terlalu panjang dan bertele-tele di film ini. Ada sebuah adegan dimana Alice masuk ke ruangan gelap dan harus menunggu lampu di lantai menyala satu per satu untuk bisa lanjut ke adegan berikutnya. Ada pula adegan pertarungan antara Alice dan Jill yang ... Ya Tuhan, menghabiskan seperlima dari total durasi film ini. Belum lagi tokoh-tokoh dari game-nya seperti Ada Wong dan Leon Kennedy yang dipaksakan masuk ke dalam cerita. Hasilnya adalah film yang saya sendiri bingung untuk mendeskripsikannya. Kalaupun ada yang bisa membuat saya betah menonton film ini adalah wajah cantik Mila Jovovich dan Sienna Guillory. Dan akhirnya sambil menelan kenyataan bahwa kami sudah menghabiskan 70 ribu rupiah untuk tontonan ini kami berdua kemudian menghabiskan waktu dengan bersungut-sungut dan berkomentar tentang betapa parahnya film ini.


Namun setelah beberapa lama kami berkomentar tentang betapa 'prek'nya film yang ada di depan kami ini, mendadak kami akhirnya sadar bahwa hanya kami berdua yang nampaknya terganggu dengan film yang kami tonton itu. 


Semua orang terlihat duduk manis saja, dengan sesekali bercanda dengan teman sebelahnya. Sebagian besar penonton terlihat benar-benar menikmati film. Bahkan ketika ada sebuah adegan yang sangat 'oh hell!', yang menurut kami berdua layaknya cerita Inspektur Vijay di film India klasik (seorang tokoh ditembak beberapa kali tapi tetap bisa melawan dan kemudian mati dengan dramatis), penonton lain masih nampak sangat antusias. Mereka jelas tidak 'terganggu' . Setidaknya mereka jelas berpikir bahwa 70 ribu yang mereka keluarkan tidak sia-sia, tidak seperti kami. 

Dalam perjalanan pulang saya kemudian ingat tentang beberapa kesempatan saat kami berdua nonton film bareng. Oh ya, pacar saya adalah seorang editor dan asisten sutradara, dan sudah pernah terlibat dalam beberapa pembuatan film dan dokumenter. Sementara saya dulu sempat ikut dalam beberapa proyek video dan film pendek. Singkat kata saya tiba-tiba ingat di saat kami nonton film kami berdua biasanya jadi sangat cerewet. Rasanya banyak sekali yang bisa dikomentarin. dan yang kadang menyebalkan adalah pacar saya matanya juga jeli sekali. Hanya sekilas sekilas saja tahu kalau ada adegan yang 'bocor' (seperti boomer atau kru masuk ke dalam scene dan lain sebagainya) atau ada adegan yang jumping antara satu scene dengan scene yang lain. Akhirnya saya sadar bahwa nonton film jadi tidak pernah sesederhana dulu lagi. 

Makanya buat siapapun yang sekarang lagi dideketin (atau lagi ndeketin, saya ucapkan goodluck) anak film kudu mikirin lagi deh. Nonton bioskop bakalan jadi riweh dan gak sederhana. Pasti banyak komentarnya. Dan seringnya komentar itu tentang hal yang buat banyak orang awam itu aneh, hal yang 'nggak penting banget diurusin'. Semacam yang teknik ngambil gambarnya lah, tentang teknik ngeditnya lah, dll.  Kencan nonton bioskop jadi lebih complicated ketimbang orang awam. Gak percaya? Coba deh deketin anak film sekarang :) hehe ...
 
nb : Untuk April yang mungkin kebetulan baca, ayo semangat! :p  hehehe 



Minggu, 07 Oktober 2012

Florence and The Machine


Selamat pagi ! Sungguh saya ingin mengucapkan berbagai harapan tentang hari ini tapi nampaknya timeline twitter sudah penuh dengan semua itu, jadi saya titipkan saja pada kicauan teman-teman kita pagi ini. Well setidaknya satu doa sudah terkabul kemarin. Jogja diguyur hujan yang sisa dinginnya masih bisa terasa di udara pagi ini. Alhamdulillah ... :)

Oh ya, saya hanya ingin sharing video di tulisan kali ini. Seminggu yang lalu saya mentasbihkan diri resmi sebagai fans Florence and The Machine. Menyesal rasanya kenapa saya baru dengar lagu-lagu mereka sekarang. Alasan kenapa saya suka dengan band ini? Entahlah. Mungkin karena saya suka sekali suara Florence Welch ini. Atau karena personilnya yang sangar tampilannya tapi piawai menggunakan instrumen harpa. Bisa juga karena saya suka susunan drum dan perkusi band ini yang menghentak rapi. Yang jelas saya jatuh cinta dengan mereka. 


 " Louder than sirens
Louder than bells
Sweeter than heaven
And hotter than hell "

Florence and The Machine "Drummer Song"




Florence and The Machine "Cosmic Love" 




 Florence and The Machine "Spectrum 




Jumat, 05 Oktober 2012

How Do You Turn This On?


Dulu pernah sangat populer. Bagi lelaki generasi 90an pasti tahu. 
Diedit dari sebuah lukisan perang Napoleonic. 

Lukisan asli di sini



 

Kamis, 04 Oktober 2012

Aku Titip yo Cah


Dua hari yang lalu saya diajak Cahya untuk hadir di Screening Karya di kampus. Semacam acara kecil-kecilan sebenarnya. Intinya untuk mengajak angkatan bawah berkarya kreatif dengan menampilin karya-karya angkatan atas seperti film, iklan, video, foto, dll. Cukup banyak yang hadir. Beberapa dari angkatan 2011 dan segerombolan anak 2012. Cahya oke juga bisa mengadakan acara itu kemarin mengingat biasanya anak angkatan bawah saya dengar cukup susah buat diajak kumpul.

Sebuah catatan kecil. Saya senang sekali melihat karya angkatan 2009 :)

Film yang dibuat Pandu, Hawwin, cs untuk kompetisi di Benteng Vredeburg tembus jadi juara 1 (maaf kalo saya salah tangkap kemarin). Kami tidak mengatakan ini di tempat memang, tapi saya dan teman-teman 2008 cukup terkesima. Saya rasa April juga merasa begitu. Dia agak sebel juga mungkin karena yang bikin film bareng-bareng malah anak Deadline, bukan Kine. Karya ad radio yang mereka tunjukkan pada saya kemarin malam juga membuat saya senang. Bangga mungkin, walaupun saya juga tidak yakin hubungan saya dan mereka 'sedekat' itu. Tapi entah perasaan itu ada juga. 

Mungkin ini sudah waktunya buat mereka untuk bersinar. Dengan passion yang mereka perlihatkan kemarin, saya rasa waktunya tidak akan lama lagi. Terakhir buat anak 2009, siapapun yang kebetulan selo tenan baca tulisan ini, saya cuman pesan 1 saja.

Panggung  di Pinasthika buat Deadline dan alasan untuk datang di hall Awarding Night Pinasthika untuk menyoraki para pemenang Adstudent. 

Selamat berkarya, 

 

Rabu, 03 Oktober 2012

Hahaha Sejarah




Charlie Chaplin (foto pojok kanan bawah), aktor komedi klasik dari Inggris pernah berkata, " Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot."

Saya pikir juga begitu. Sama seperti saat kita melihat ke belakang dan mengingat hal-hal bodoh yang kita lakukan dulu. Sejarah. Sejarah adalah komedi (setidaknya sejarah kita). Sama saja seperti pertunjukan badut dan boneka di panggung pasar malam murahan. Semua tokoh berebutan tampil, beraksi, menjadi bintang pada sebuah detik, dan pada detik berikutnya menghilang sesegera rombongan pasar malam berangkat menuju kota berikutnya.

Dan seperti para tokoh yang tampil di panggung itu, tak penting sebesar apa perannya, nampaknya kita harus menjalankan peran kita sebaik mungkin. Walaupun kita tahu suatu saat nanti tirai akan tertutup, setidaknya kita harus memastikan bahwa tirai itu tertutup dengan suara tepukan tangan.  

*hasil pikiran selo sehabis pulang mengantar pacar dari GMC