Minggu, 21 Oktober 2012

Jangan Mau Punya Pacar Anak Film






Senin ini saya sedikit selo, alhasil munculah keinginan untuk menuliskan hasil obrolan saya dan pacar sekitar 2 minggu yang lalu. Sebenarnya topik yang kami bicarakan saat itu bermacam-macam, tapi intinya kurang lebih begini: 

"Pikir-pikir dulu  deh kalo mau pacaran ama orang film ... "

Mungkin harus saya jelaskan arti orang film di sini. Maksud kami orang yang ngerti film nggak cuman nonton doang. Kru, termasuk di dalamnya editor, sutradara, atau siapapun yang mengerti sedikit banyak soal seluk beluk film. Mungkin teman anda yang ngambil jurusan film di komunikasi atau ikut klub film misalnya. Siapapun yang mau pacaran sama orang-orang ini ada baiknya untuk yah ... menimbang kembali keputusannya.

Kesimpulan ini muncul saat kami berdua iseng-iseng saja memutuskan untuk menonton film di bioskop sekitar 2 minggu yang lalu. Kebetulan saat itu salah satu film yang sedang rilis adalah seri Resident Evil terbaru, Retribution. Kebetulan pacar saya adalah penyuka film zombie semacam seri Walking Dead. Aneh memang. Well, singkat cerita setelah beberapa saat kami duduk manis di kursi merah dan menikmati jalannya film, kami segera berdua sepakat akan satu hal : Resident Evil Retribution ini adalah film yang mengecewakan.   



Entah saya harus mulai dari mana. Di awal kami berharap bahwa di flm ini akan ada lebih banyak cerita yang bisa dieksplor dari seri Resident Evil, minimal seperti seri sebelumnya. Banyak sekali adegan-adegan yang terlalu panjang dan bertele-tele di film ini. Ada sebuah adegan dimana Alice masuk ke ruangan gelap dan harus menunggu lampu di lantai menyala satu per satu untuk bisa lanjut ke adegan berikutnya. Ada pula adegan pertarungan antara Alice dan Jill yang ... Ya Tuhan, menghabiskan seperlima dari total durasi film ini. Belum lagi tokoh-tokoh dari game-nya seperti Ada Wong dan Leon Kennedy yang dipaksakan masuk ke dalam cerita. Hasilnya adalah film yang saya sendiri bingung untuk mendeskripsikannya. Kalaupun ada yang bisa membuat saya betah menonton film ini adalah wajah cantik Mila Jovovich dan Sienna Guillory. Dan akhirnya sambil menelan kenyataan bahwa kami sudah menghabiskan 70 ribu rupiah untuk tontonan ini kami berdua kemudian menghabiskan waktu dengan bersungut-sungut dan berkomentar tentang betapa parahnya film ini.


Namun setelah beberapa lama kami berkomentar tentang betapa 'prek'nya film yang ada di depan kami ini, mendadak kami akhirnya sadar bahwa hanya kami berdua yang nampaknya terganggu dengan film yang kami tonton itu. 


Semua orang terlihat duduk manis saja, dengan sesekali bercanda dengan teman sebelahnya. Sebagian besar penonton terlihat benar-benar menikmati film. Bahkan ketika ada sebuah adegan yang sangat 'oh hell!', yang menurut kami berdua layaknya cerita Inspektur Vijay di film India klasik (seorang tokoh ditembak beberapa kali tapi tetap bisa melawan dan kemudian mati dengan dramatis), penonton lain masih nampak sangat antusias. Mereka jelas tidak 'terganggu' . Setidaknya mereka jelas berpikir bahwa 70 ribu yang mereka keluarkan tidak sia-sia, tidak seperti kami. 

Dalam perjalanan pulang saya kemudian ingat tentang beberapa kesempatan saat kami berdua nonton film bareng. Oh ya, pacar saya adalah seorang editor dan asisten sutradara, dan sudah pernah terlibat dalam beberapa pembuatan film dan dokumenter. Sementara saya dulu sempat ikut dalam beberapa proyek video dan film pendek. Singkat kata saya tiba-tiba ingat di saat kami nonton film kami berdua biasanya jadi sangat cerewet. Rasanya banyak sekali yang bisa dikomentarin. dan yang kadang menyebalkan adalah pacar saya matanya juga jeli sekali. Hanya sekilas sekilas saja tahu kalau ada adegan yang 'bocor' (seperti boomer atau kru masuk ke dalam scene dan lain sebagainya) atau ada adegan yang jumping antara satu scene dengan scene yang lain. Akhirnya saya sadar bahwa nonton film jadi tidak pernah sesederhana dulu lagi. 

Makanya buat siapapun yang sekarang lagi dideketin (atau lagi ndeketin, saya ucapkan goodluck) anak film kudu mikirin lagi deh. Nonton bioskop bakalan jadi riweh dan gak sederhana. Pasti banyak komentarnya. Dan seringnya komentar itu tentang hal yang buat banyak orang awam itu aneh, hal yang 'nggak penting banget diurusin'. Semacam yang teknik ngambil gambarnya lah, tentang teknik ngeditnya lah, dll.  Kencan nonton bioskop jadi lebih complicated ketimbang orang awam. Gak percaya? Coba deh deketin anak film sekarang :) hehe ...
 
nb : Untuk April yang mungkin kebetulan baca, ayo semangat! :p  hehehe 



Tidak ada komentar: