Senin, 19 November 2012

Menilik Budaya Komentar Orang Indonesia







Bahkan Anda yang mungkin tidak suka membaca koran atau menonton Jeremy Teti di layar televisi juga menyadari bahwa Indonesia saat ini sudah kental dengan internet. Dunia digital hadir layaknya sebuah padang bermain baru. Semua orang jadi punya akses yang sama ke segala informasi. Saya pernah membaca sebuah artikel yang isinya menyatakan bahwa Indonesia boleh bangga karena masyarakatnya sudah pada melek internet. Dan semudah rumus merebus mie instan, dikatakan bahwa masyarakat yang melek informasi nantinya akan jadi masyarakat yang maju. Luar biasa.  

Setidaknya itu pandangan saya dulu hingga sampai saya mengamati pola komentar masyarakat kita di dunia digital. 

Tulisan ini sebenarnya merupakan hasil perasaan miris yang berlarut-larut karena membaca berbagai komentar masyarakat Indonesia di berbagai artikel dunia maya. Bagi Anda yang pernah menyempatkan diri memperhatikan isi dari komentar masyarakat Indonesia tentu akan mengerti maksud saya. Ya, isi komentar masyarakat Indonesia ketika menanggapi sebuah isu atau artikel di internet sangat memprihatinkan. Saya kemarin melakukan analisis kecil-kecilan tentang budaya berkomentar masyarakat Indonesia, dan ini yang sedikit bisa saya simpulkan : 

  • Lebih mengikuti tema atau isu yang 'dangkal'.


Dari yang saya perhatikan, ada 3 tema artikel yang paling banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Politik, kriminal, dan seks. Sebenarnya ini sebuah temuan yang menggelitik mengingat nampaknya hampir semua orang berpandangan buruk tentang politik tapi berita tentang politik tak pernah sepi dari komentar. Coba saja perhatikan di Kompas.com atau di Detik.com. Yang membuat saya miris adalah mengapa malah tema-tema artikel yang sifatnya membangun seperti sains dan kebudayaan minim pembaca. Headline 'Novi si Pengemudi Seksi' lebih banyak dikomentari daripada artikel tentang penyelamatan orang utan di Kalimantan 

  • Belum dapat memahami sopan santun dalam berkomentar.  
Sebenarnya saya sedikit ragu apakah saya benar menggunakan kata 'budaya berkomentar' di judul tulisan ini mengingat kolom komentar di artikel Indonesia isinya kebanyakan adalah 'budaya mencaci-maki. Kadang sulit rasanya untuk dapat menemukan sebuah artikel yang membuat pro kontra tanpa menemukan komentar yang isinya saling menghina. Berkomentar bukan menjadi sebuah sarana untuk saling mencerahkan dan berbagi argumen yang solid tapi lebih menjadi ajang pertarungan cacian dan sumpah serapah.

  • Comment First Read Later
Ini adalah sebuah penyakit yang sering saya lihat di berbagai artikel berita di internet. Seringkali masyarakat Indonesia segera menulis komentar (dan umumnya isinya lebih ke cacian) tanpa melihat dulu isi berita. Misalnya ketika judulnya ada tulisan "Demokrat" langsung saja menuliskan komentar kritik tentang bagaimana parahnya sepak terjang partai Demokrat, padahal isi beritanya adalah tentang rekonsiliasi antara partai Demokrat dan Republik saat US Election kemarin. Pernah dulu saya menyaksikan sebuah page bertajuk TV One di Facebook yang ramai sekali oleh kritikan para pemirsa Indonesia, padahal jelas-jelas dari info serta logo yang ada page tersebut adalah milik TVOne America. 

  • Bicara orang, bukan ide dan gagasan
Eleanor Roosevelt dulu pernah berkata "Orang besar berbicara tentang ide dan gagasan, orang biasa bicara tentang kejadian, sementara orang kecil bicara tentang orang lain". Di Indonesia sayangnya kebanyakan masih berada di poin ketiga. Ketika ada sebuah artikel, jarang sekali arah diskusi di bawa ke ranah yang lebih membangun. Membicarakan gagasan atau minimal membicarakan kemungkinan solusi. Yang ada seringkali hanyalah komentar yang 'asal-bunyi' saja. Misalnya saja ketika ada berita tentang bencana banjir di tempat X, banyak komentar isinya bukan tentang bagaimana kemungkinan untuk mengupayakan bantuan swadaya tapi malah saling menyalahkan. Mulai dari bobroknya pemerintahan SBY hingga karena tempat X adalah lokasi mesum yang akhirnya diadzab Tuhan karena dosa-dosanya. Terkesan lucu? Percayalah Anda akan sering menemukannya di kolom artikel Kompas.com. 


Saya rasa sangat perlu untuk diadakan semacam pendidikan tentang sopan santun dan aturan main di dunia maya. Ini penting karena masyarakat Indonesia benar mampu mengoperasikan berbagai fasilitas internet, tapi pertanyaannya adalah apakah 'mampu mengoperasikan' sama dengan 'mengerti dan memahami'? Benar adanya bahwa berkomentar adalah kemerdekaan setiap orang ketika ia berada di dunia digital. Siapapun boleh menulis apapun sesuai apa yang ada dalam pikirannya. Tulisan saya inipun juga tidak mengkritik atas apa yang harus atau tidak seharusnya ditulis orang. Yang saya tuliskan di sini hanyalah sebuah refleksi atas sebuah hal sederhana berupa kolom komentar di sebuah artikel online, yang bisa memberikan kita insight tentang bagaimana pola pikir masyarakat Indonesia. Sebuah refleksi yang seakan-akan membuat kita bertanya "Apakah memang Indonesia benar-benar maju dengan adanya kemajuan teknologi internet ini?"  


Minggu, 04 November 2012

Cah Sangar, Katanya ...



Hujan turun rintik-rintik dari subuh membasahi jalanan dan lampu-lampu neon pertokoan sepanjang jalan Gejayan. Selamat pagi semua. Saya doakan dimanapun Anda berada sekarang langit di atas Anda tidak sekelabu langit Jogjakarta pagi ini. Atau mungkin Anda malah harus bersyukur, mengingat volume air yang jatuh tumpah dan meluncur pelan di jendela membuat kopi di cangkir porselen favorit Anda terasa lebih hangat dari biasanya. Hujan memang menciptakan beragam rasa. Well, apapun rasa yang ditimbulkan hujan saya harap hari ini berjalan dengan menyenangkan. Saya sendiri tidak begitu yakin apakah hujan pagi ini adalah pertanda baik untuk sisa hari ini, namun yang jelas saya tahu kalau suara hujan tadi pagi mengajak saya untuk menulis. 

Sedikit celoteh dari sebuah kejadian beberapa saat yang lalu ...

Sekitar sebulan yang lalu saya mendapat sebuah balasan twit yang cukup nyentil dari kakak kelas saya 'Awe' Ardi Wilda. Saat itu ceritanya saya sedang semangat gembar-gembor untuk membantu adek-adek Deadline untuk menang di kompetisi kreatif Pinasthika. Banyak yang saya lakukan mulai dari nulis status semangat dan motivasi di FB, sedikit ikut sharing-sharing, sampai khusus nulis di blog. Saya sangat ingin adek-adek kelas kami ini bisa ikut merasakan kemenangan seperti yang bisa saya raih dulu. Di tengah semangat saya itu si Awe ini ngetwit khusus untuk saya yang intinya "Kesuksesan di matamu belum tentu sama kayak kesuksesan yang orang lain pengen. Jangan dipaksain orang lain buat ngikut kamu. Jangan-jangan kamu ini post-power syndrom karena bukan masamu lagi...? ". 

Jleb. Saya seakan ditampar. Jujur saja saya malu. Saya sadar dan mulai bertanya-tanya. 

Walaupun tidak sepenuhnya benar tapi ada poin yang benar-benar nampol buat saya di twit Awe waktu itu. Sebuah pertanyaan pun muncul di kepala saya. Sebenarnya semua yang saya lakukan untuk adik-adik ini emang karena saya tulus ingin membantu, atau sebenarnya adalah keegoisan untuk mengajak orang lain mengikuti jalan saya? Definisi sukses di mata saya adalah menang kompetisi dan berkibar di festival kreatif, sehingga saya lalu memandang bahwa adik-adik yang 'nampaknya' tak punya passion itu sebagai sesuatu yang disayangkan. Atau mungkin juga di dalam hati sebenarnya saya menyukai peran 'penyelamat Deadline' ini karena saya merasa nyaman dan hebat, seorang senior yang selalu jadi rujukan dan dihormati adek kelas? Duduk di semua pertemuan dengan semua mata memandang saya, dengan sesekali menikmati tatapan takjub adek kelas saat saya bicara tentang keberhasilan saya di kompetisi X dan Y. Sebuah perasaan superior sebagai senior yang bisa memberikan semua penilaian tentang baik dan buruk, punya legitimasi untuk mengkritik dan lain sebagainya. Dadi cah sangar, diajeni.

Mungkin saja pikiran saya ini salah, saya harap juga begitu. Tulisan ini pun sebenarnya juga otokritik atas apa-apa yang saya mungkin saya pikirkan kemarin. Toh kemarin juga Deadline berhasil membawa dua gold dan 1 bronze di Pinasthika 2012. Saya ucapkan selamat. Tapi jauh di dalam hati saya tahu bahwa Awe benar. Saya sudah berpikir egois. Dari beragam kejadian yang terjadi belakangan ini, mulai dari cerita tentang adik saya hingga teman-teman lama SMA membuat saya kian sadar bahwa kesuksesan itu berbeda bentuknya. dan tidak sepatutnya saya mendikte orang lain untuk mencapai kesuksesan yang sama dengan apa yang saya alami.