Minggu, 04 November 2012

Cah Sangar, Katanya ...



Hujan turun rintik-rintik dari subuh membasahi jalanan dan lampu-lampu neon pertokoan sepanjang jalan Gejayan. Selamat pagi semua. Saya doakan dimanapun Anda berada sekarang langit di atas Anda tidak sekelabu langit Jogjakarta pagi ini. Atau mungkin Anda malah harus bersyukur, mengingat volume air yang jatuh tumpah dan meluncur pelan di jendela membuat kopi di cangkir porselen favorit Anda terasa lebih hangat dari biasanya. Hujan memang menciptakan beragam rasa. Well, apapun rasa yang ditimbulkan hujan saya harap hari ini berjalan dengan menyenangkan. Saya sendiri tidak begitu yakin apakah hujan pagi ini adalah pertanda baik untuk sisa hari ini, namun yang jelas saya tahu kalau suara hujan tadi pagi mengajak saya untuk menulis. 

Sedikit celoteh dari sebuah kejadian beberapa saat yang lalu ...

Sekitar sebulan yang lalu saya mendapat sebuah balasan twit yang cukup nyentil dari kakak kelas saya 'Awe' Ardi Wilda. Saat itu ceritanya saya sedang semangat gembar-gembor untuk membantu adek-adek Deadline untuk menang di kompetisi kreatif Pinasthika. Banyak yang saya lakukan mulai dari nulis status semangat dan motivasi di FB, sedikit ikut sharing-sharing, sampai khusus nulis di blog. Saya sangat ingin adek-adek kelas kami ini bisa ikut merasakan kemenangan seperti yang bisa saya raih dulu. Di tengah semangat saya itu si Awe ini ngetwit khusus untuk saya yang intinya "Kesuksesan di matamu belum tentu sama kayak kesuksesan yang orang lain pengen. Jangan dipaksain orang lain buat ngikut kamu. Jangan-jangan kamu ini post-power syndrom karena bukan masamu lagi...? ". 

Jleb. Saya seakan ditampar. Jujur saja saya malu. Saya sadar dan mulai bertanya-tanya. 

Walaupun tidak sepenuhnya benar tapi ada poin yang benar-benar nampol buat saya di twit Awe waktu itu. Sebuah pertanyaan pun muncul di kepala saya. Sebenarnya semua yang saya lakukan untuk adik-adik ini emang karena saya tulus ingin membantu, atau sebenarnya adalah keegoisan untuk mengajak orang lain mengikuti jalan saya? Definisi sukses di mata saya adalah menang kompetisi dan berkibar di festival kreatif, sehingga saya lalu memandang bahwa adik-adik yang 'nampaknya' tak punya passion itu sebagai sesuatu yang disayangkan. Atau mungkin juga di dalam hati sebenarnya saya menyukai peran 'penyelamat Deadline' ini karena saya merasa nyaman dan hebat, seorang senior yang selalu jadi rujukan dan dihormati adek kelas? Duduk di semua pertemuan dengan semua mata memandang saya, dengan sesekali menikmati tatapan takjub adek kelas saat saya bicara tentang keberhasilan saya di kompetisi X dan Y. Sebuah perasaan superior sebagai senior yang bisa memberikan semua penilaian tentang baik dan buruk, punya legitimasi untuk mengkritik dan lain sebagainya. Dadi cah sangar, diajeni.

Mungkin saja pikiran saya ini salah, saya harap juga begitu. Tulisan ini pun sebenarnya juga otokritik atas apa-apa yang saya mungkin saya pikirkan kemarin. Toh kemarin juga Deadline berhasil membawa dua gold dan 1 bronze di Pinasthika 2012. Saya ucapkan selamat. Tapi jauh di dalam hati saya tahu bahwa Awe benar. Saya sudah berpikir egois. Dari beragam kejadian yang terjadi belakangan ini, mulai dari cerita tentang adik saya hingga teman-teman lama SMA membuat saya kian sadar bahwa kesuksesan itu berbeda bentuknya. dan tidak sepatutnya saya mendikte orang lain untuk mencapai kesuksesan yang sama dengan apa yang saya alami. 





Tidak ada komentar: