Kamis, 27 Desember 2012

Sebuah Senja



Bila punya waktu, datanglah ke Jogja
Kami tak memiliki taman bermain
wahana raksasa yang berputar mengguncang adrenalin. 
Atau kios-kios bersinar yang menjual barang-barang mahal berbinar
Atau kafe temaram yang menjual kopi dan makanan kelas tinggi
Yang ada cukuplah kopi hitam dengan ampas tebal di gelas kaca kecil 
Yang dijual dalam tenda oranye di atas gerobak kayu mungil
Lengkap dengan wajah sederhana berlogat jawa yang akan sering menyapa

Tapi tak mengapa,
Karena di sini kami punya senja
Yang dengan cuma-cuma boleh Anda ambil sepotong
Silahkan. Bawalah pulang
Karena siapa tahu
Kerinduan akan membawa Anda hadir di jalanan kota ini lagi
Menunggu senja. Menunggu kenangan lama.







Natal. 25 Desember 2012. 
Saya dan Titi bermain warna dan cahaya


Rabu, 12 Desember 2012

Sate, Lontong, dan Kesuksesan



Bu Sri, ibu kos saya (atau mungkin lebih tepat dipanggil nenek kos mengingat usianya yang memang sudah sepuh) berbagai sebuah cerita menarik sesaat sebelum saya mengeluarkan motor dari garasi. 

Bu Sri memiliki dua rumah, yang pertama kos yang saya tempati sekarang dan yang kedua rumah keluarga yang ada di daerah Pojok Beteng dekat Kraton Jogjakarta. Di rumah Pojok Beteng ini Bu Sri memiliki tetangga yang pekerjaan sehari-hari adalah tukang sate keliling. Mungkin yang tinggal di Jogja pernah melihat atau bahkan mencicipi sajian sate keliling ini, yang gerobaknya berbentuk seperti perahu dan biasanya saat didorong mengeluarkan bunyi lonceng. Suami istri ini bisa dibilang hidupnya sangat pas-pasan. " Wonge ki ra duwe, uripe yo muk sakonone (Orangnya tak punya, hidupnya hanya seadanya saja)", begitu kata Bu Sri. Karena memang hidupnya pas-pasan akhirnya putri semata wayang mereka tidak dapat melanjutkan kuliah. Padahal kata Bu Sri si bapak ingin sekali putrinya bisa melanjutkan kuliah dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Siti, putri pasangan penjual sate ini akhirnya harus ngenger (jawa: ikut) sebagai pembantu di sebuah toko yang dimiliki seorang etnis Cina untuk membantu ekonomi keluarga.

Tak disangka bapak pemilik toko ini ternyata adalah orang yang sangat baik. Beliau menawarkan Siti untuk memilih ingin kuliah di mana dan akan menanggung seluruh biaya kuliah, asalkan Siti tetap bekerja bantu-batu di toko saat malam sambil ngemong putranya yang masih kecil. Siti akhirnya memilih untuk kuliah seni kriya di ISI Jogja. Jadilah Siti kuliah pagi dan saat malam ia membantu mengasuh putra Bapak pemilik toko itu. Jujur saat pertama kali mendengar bahwa ia memilih jurusan itu saya ada perasaan iba, semacam pikiran "Kok nggak milih jurusan akuntansi atau apa gitu yang bisa gampang cari kerjanya .... ".

Pikiran tadi seperti langsung menampar saya balik, tepat di muka, karena baru kemarin dia lulus dan langsung ditarik oleh sebuah tim kurator museum di Jerman. Sekarang dia belajar bahasa Korea karena ia akan dipindah ke Korea untuk menetap cukup lama di sana, bekerja bersama beberapa seniman kriya Korea. Seketika ia langsung jadi bahan pembicaraan di kampung Jokteng. Siti menjadi contoh bahwa orang yang 'tidak punya'pun bisa sukses kalau mau berusaha dan berdoa. Wong cuman putrinya tukang jualan sate sama lontong kok ya bisa jadi seniman sukses di Jerman dan Korea, begitu kata orang-orang. Kata Bu Sri, orang tuanya langsung menangis waktu dengar dia diajak ke Jerman. Saya dengar juga waktu Siti wisuda keduanya sama-sama bingung waktu diminta tanda tangan kelulusan putrinya, karena keduanya cuman bisa bikin sate dan lontong, gak bisa kalau disuruh tanda tangan.

Satu hal hal yang saya petik pelajaran hari ini. Dulu sempat saya berpikir bahwa kesuksesan semacam Siti, melanglang buana ke luar negeri seperti itu harus didukung dengan ambisi yang menggebu-gebu. Giat promosi diri yang gencar biar dikenal. Menang sana-sini sambil unjuk gigi biar diminati. Tapi ternyata ya ndak harus begitu juga kok. Siti contohnya. Ndak harus jadi pribadi 'jakarta' yang nampak ambisinya, tetap saja berpegang pada budaya dan kerendah hatian ternyata juga bisa kemana-mana. Saya ingat dulu dia sering datang menengok Bu Sri. Perawakannya kecil, manis, sopan (bahkan dengan saya yang seumuran), dan keliatan sekali 'Jawa'nya. Kata Bu Sri, Siti adalah pribadi yang sangat nrimo, ndak pernah sambat (jawa : mengeluh) tentang apapun. Waktu kelulusan dia cuma menggunakan sarung Madura lama Ibunya yang berlubang dan hanya ditambal oleh sang ibu di malam sebelum wisuda karena memang keluarganya cuman punya satu sarung yang layak. 

" Ndak perlu ngoyo (berlebihan) untuk mengejar suatu keinginan. Pokoknya tetep tawakal. Eling. Kalau Allah SWT maringi dalan, ya kelakon..." kata Bu Sri. 

 Saya tersentil sekali pagi ini. Lebih beruntung dari Siti tapi kok ya masih begini-begini saja. Jelas ini pelajaran yang berharga buat saya hari ini :)




Sabtu, 08 Desember 2012

Pengalaman 'Merinding' di Museum Biologi UGM



Pagi ini saya dan Titi iseng-iseng saja berkunjung ke Museum Biologi UGM Yogyakarta. Sebenarnya awalnya kami berencana untuk bermain ke Museum Ulen Sentalu di Pakem, tapi apa daya nampaknya matahari sedang bersemangat sekali hari ini. Pulang dengan tubuh belang-belang karena memaksakan diri naik motor berdua ke arah Merapi sepertinya bukan ide yang bagus. Dan jadilah kami memutuskan untuk mengunjungi museum biologi. Oh ya, sebenarnya saya juga mau sedikit bernostalgia. Dulu waktu jaman SD saya pernah mengunjungi Museum Biologi dan Museum Jendral SUdirman saat acara widaya wisata ke Jogja. Saya penasaran seperti apa bentuk museum itu sekarang. 



Ingatan saya tentang Museum Biologi nampak seperti potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap. Ruangan gelap dengan rak-rak berisi toples berisi cairan dan hewan awetan berwarna pucat, kerangka ikan raksasa, musang dan elang awetan, dan bau khloroform yang kuat. Saya tidak bisa bilang kalau memori saya tentang museum biologi memang bisa dikatakan 'menyenangkan'. Satu hal yang saya ingat dari museum biologi adalah sebuah tempat yang gelap dan lembab dengan arsitektur 'rumah nenek'. Bangunan bergaya lama dengan bentuk jendela dan pintu yang khas dengan cat berwarna krem. Saya dan teman-teman dari SD dulu harus berbaris perlahan dipandu para guru diantara rak-rak berisi toples kaca hewan awetan sambil mendengarkan penjelasan dari penjaga museum (luar biasa jika mengingat saat itu kami tidak memecahkan apapun). Saya penasaran seperti apa museum biologi sekarang, apalagi baru akhir-akhir ini saya tahu bahwa museum itu juga adalah milik UGM. Saya harus ke sana.

Kami berdua tiba sekitar pukul 11 siang. Beberapa pegawai (semua ibu-ibu berseragam dan berkerudung) bertemu kami di parkiran motor dan segera mempersilakan kami masuk. Hari itu nampaknya para pegawai memang ada acara kondangan sehingga di museum hanya tersisa dua orang pegawai saja. Tiket kami beli dari seorang bapak berperawakan kecil yang mengajak kami ke dalam sebuah ruangan yang nampaknya berfungsi sebagai kantor. Masih tetap gelap dan lembab, pikir saya. Sejenak kemudian setelah membayar tiket seharga 3000 rupiah per orang kami diijinkan untuk dapat menikmati koleksi museum ini. 


Dari yang bisa saya katakan museum ini nampaknya sudah beberapa kali mengalami perbaikan. Lantainya tidak berasal dari tegel hitam licin seperti yang saya ingat dulu, namun sudah menjadi lantai keramik putih. Koleksinya juga sudah dirapikan dan disesuaikan, karena saya ingat betul museum biologi dulu sesak sekali. Pengunjung harus melewati koridor kecil dengan segala macam koleksi berjejalan di sekitarnya. Ada beberapa koleksi yang cukup menarik seperti foto seekor ular yang baru saja menelan seorang pria di Sumatra, kerangka gajah lengkap (yang nampaknya jadi trade mark museum ini), awetan komodo yang tubuhnya lebih besar dari saya, dan beberapa awetan burung yang nampak asli. Selain kami hanya ada seorang bapak dan dua anaknya serta dua orang pegawai museum yang berada di sana. Saya dan Titi cukup menikmati waktu kami melihat beberapa koleksi museum itu. Setidaknya sampai kami masuk ke ruangan yang berada di ujung koridor ... 


Di ujung museum terdapat ruangan luas yang berisi beberapa diorama hewan awetan dengan rak tinggi berisi kotak-kotak kayu berisi koleksi serangga. Ruangan ini nampaknya adalah ruangan utama dari museum biologi karena berisi koleksi hewan-hewan awetan yang lebih besar seperti harimau, orang utan, beberapa jenis kera, dan tapir. Saat saya memasuki ruangan itu memang sudah terasa sedikit aneh karena bapak dan kedua anaknya tadi nampaknya memilih untuk tidak masuk ke ruangan ini. Hanya kami berdua yang ada di ruangan itu. Di sebelah kiri ruangan ada sebuah kotak kaca besar dengan lis kayu berwarna putih-krem yang didalamnya terdapat beberapa hewan awetan. Tapir, bekantan, beberapa jenis kera, dan sejenis musang yang menggigit burung. Ada satu koleksi yang langsung membuat kami sama-sama menoleh. Sebuah potongan kepala seekor babi hutan nampak memandang kami dengan mata kelerengnya dari balik kotak kaca itu. Entah kenapa saya merasa ada yang berbeda dengan kepala babi hutan itu (nampaknya Titi juga merasakan hal yang sama karena kami langsung menatap kepala babi itu cukup lama).

Dan tiba-tiba saja rasanya ruangan jadi panas dan sesak. Saya merinding.

Saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Tiba-tiba saja udara terasa sesak dan panas. Saya tetap berusaha menikmati koleksi lain karena saya tak mau Titi jadi panik. Dia pemberani sekali kalau nonton film horor, tapi penakut sekali kalau diajak ke tempat gelap dan semacamnya. Saya juga tidak berani bilang kalau sebenarnya saya merasa kami seperti ada yang mengikuti. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi saya merasa seperti ada 'seseorang' di belakang saya di ruangan tersebut tapi itu tak mungkin karena jelas hanya ada kami berdua di ruangan tersebut.  Semakin aneh karena bapak dan kedua anaknya itu nampaknya juga sudah meninggalkan museum, dan hanya tinggal kami berdua dan kedua pegawai yang jelas-jelas sedang ada di ruangan kantor sekarang.  Saya berusaha menenangkan diri, berusaha agar perasaan sesak itu hilang dengan terus-terusan berpikir "udah-nggak-usah-mikir-aneh-aneh-deh".
Perasaan itu semakin kuat saat saya masuk ke ruangan sempit yang di dalamnya terdapat kerangka manusia berwarna kecoklatan dalam sebuah lemari kaca. Saya sadar bahwa Titi juga ketakutan, tapi dengan bijak memilih untuk tidak panik dan pelan-pelan mengajak kami berdua keluar museum.

Di parkiran saya langsung menyalakan sepeda motor. Di luar museum 'perasaan' itu seketika hilang, tapi saya masih merasa tidak nyaman. Tangan saya basah oleh keringat.  Sebelum pulang saya sempatkan menyapa bapak pegawai yang tadi memberikan kami karcis. Jelas ada yang 'nunggu' di museum ini, pikir saya. Saya ingat bahwa dulu saya pernah membaca sebuah artikel di internet yang menyatakan kalau Museum Biologi UGM ini memang sedikit angker. Konon para penjaga malam sering mendengar ada suara hewan seperti harimau atau kera di dalam ruangan museum yang sudah dikunci, padahal semua sama-sama tahu kalau tak ada hewan  yang masih 'hidup' di dalamnya.

Soal apa sebenarnya terjadi tadi siang, well ... Wallahu Alam ...

 

Kamis, 06 Desember 2012

Berbagi Mimpi



Minggu lalu saya dan dua adik kelas, Ipeh dan Ghora semacam 'berkolaborasi' untuk kompetisi Apaidemu.com. Di kompetisi yang disponsori Pertamina ini anak-anak muda ditantang untuk menyampaikan apapun ide mereka, dalam bidang apa saja, yang bertujuan untuk membuat Indonesia lebih baik. 



Kami membuat sebuah campaign berjudul 'Berbagi Mimpi'. Campaign ini sebenarnya muncul dari cerita Ipeh yang tahun lalu berkesempatan untuk melakukan KKN di sebuah desat terpencil di Papua bernama Yakati. Cerita dan pengalaman yang ia dapatkan di sana sejujurnya sungguh menarik buat saya, tentang bagaimana sebuah desa di Papua sana harus menjalani kehidupan jauh dari segala macam akses informasi. Dari sini kemudian saya mengajak Ipeh untuk 'tandem' ketika ada kesempatan di Apaidemu.com ini, dengan harapan siapa tahu campaign kecil kami disetujui dan bisa mengajak lebih banyak orang peduli dengan Papua. 


Lewat campaign ini kami mengajak anak-anak di Jawa untuk  mengirim surat dan gambar kecil tentang cita-cita mereka pada kawan mereka di Papua. Walaupun kedengarannya sederhana, efeknya bisa berarti sekali. Dari anak-anak untuk anak-anak. 



Walaupun kami belum beruntung di kesempatan ini, saya jujur tidak merasa sedih. Ini adalah hasil kolaborasi pertama saya dengan adik kelas, bahkan dengan orang lain di luar 'lingkaran' tim saya dulu seperti Matahari, Cahya, atau Ari. Rasanya segar. Menyenangkan malah, rasanya saya mendapat banyak pelajaran. Entah karena saya suka melihat obrolan antara Ipeh dan Ghora ("kowe ki koyo TV layar datar Peh ...") atau memang karena saya jadi merasa 'baru' lagi. Tidak ada beban untuk menang atau kalah, hanya keinginan untuk membantu anak-anak Yakati. Sebenarnya saya sedikit malu untuk mengatakannya, tapi kemarin saya sangat ingin program ini bisa kami laksanakan sendiri. Naif mungkin, tapi saya rasa pasti akan sangat menyenangkan bila melihat wajah-wajah anak Yakati itu bisa menerima surat dari anak lain yang nun jauh di sana ... :)

Saya tahu bahwa masih banyak kekurangan dari campaign yang saya buat itu. Tapi toh namanya juga belajar. Dan terima kasih untuk Ipeh dan Ghora yang sudah berkenan mau mengajak saya berkolaborasi. Kapan-kapan nek sempet gawe meneh yo cah :D