Sabtu, 08 Desember 2012

Pengalaman 'Merinding' di Museum Biologi UGM



Pagi ini saya dan Titi iseng-iseng saja berkunjung ke Museum Biologi UGM Yogyakarta. Sebenarnya awalnya kami berencana untuk bermain ke Museum Ulen Sentalu di Pakem, tapi apa daya nampaknya matahari sedang bersemangat sekali hari ini. Pulang dengan tubuh belang-belang karena memaksakan diri naik motor berdua ke arah Merapi sepertinya bukan ide yang bagus. Dan jadilah kami memutuskan untuk mengunjungi museum biologi. Oh ya, sebenarnya saya juga mau sedikit bernostalgia. Dulu waktu jaman SD saya pernah mengunjungi Museum Biologi dan Museum Jendral SUdirman saat acara widaya wisata ke Jogja. Saya penasaran seperti apa bentuk museum itu sekarang. 



Ingatan saya tentang Museum Biologi nampak seperti potongan-potongan ingatan yang tidak lengkap. Ruangan gelap dengan rak-rak berisi toples berisi cairan dan hewan awetan berwarna pucat, kerangka ikan raksasa, musang dan elang awetan, dan bau khloroform yang kuat. Saya tidak bisa bilang kalau memori saya tentang museum biologi memang bisa dikatakan 'menyenangkan'. Satu hal yang saya ingat dari museum biologi adalah sebuah tempat yang gelap dan lembab dengan arsitektur 'rumah nenek'. Bangunan bergaya lama dengan bentuk jendela dan pintu yang khas dengan cat berwarna krem. Saya dan teman-teman dari SD dulu harus berbaris perlahan dipandu para guru diantara rak-rak berisi toples kaca hewan awetan sambil mendengarkan penjelasan dari penjaga museum (luar biasa jika mengingat saat itu kami tidak memecahkan apapun). Saya penasaran seperti apa museum biologi sekarang, apalagi baru akhir-akhir ini saya tahu bahwa museum itu juga adalah milik UGM. Saya harus ke sana.

Kami berdua tiba sekitar pukul 11 siang. Beberapa pegawai (semua ibu-ibu berseragam dan berkerudung) bertemu kami di parkiran motor dan segera mempersilakan kami masuk. Hari itu nampaknya para pegawai memang ada acara kondangan sehingga di museum hanya tersisa dua orang pegawai saja. Tiket kami beli dari seorang bapak berperawakan kecil yang mengajak kami ke dalam sebuah ruangan yang nampaknya berfungsi sebagai kantor. Masih tetap gelap dan lembab, pikir saya. Sejenak kemudian setelah membayar tiket seharga 3000 rupiah per orang kami diijinkan untuk dapat menikmati koleksi museum ini. 


Dari yang bisa saya katakan museum ini nampaknya sudah beberapa kali mengalami perbaikan. Lantainya tidak berasal dari tegel hitam licin seperti yang saya ingat dulu, namun sudah menjadi lantai keramik putih. Koleksinya juga sudah dirapikan dan disesuaikan, karena saya ingat betul museum biologi dulu sesak sekali. Pengunjung harus melewati koridor kecil dengan segala macam koleksi berjejalan di sekitarnya. Ada beberapa koleksi yang cukup menarik seperti foto seekor ular yang baru saja menelan seorang pria di Sumatra, kerangka gajah lengkap (yang nampaknya jadi trade mark museum ini), awetan komodo yang tubuhnya lebih besar dari saya, dan beberapa awetan burung yang nampak asli. Selain kami hanya ada seorang bapak dan dua anaknya serta dua orang pegawai museum yang berada di sana. Saya dan Titi cukup menikmati waktu kami melihat beberapa koleksi museum itu. Setidaknya sampai kami masuk ke ruangan yang berada di ujung koridor ... 


Di ujung museum terdapat ruangan luas yang berisi beberapa diorama hewan awetan dengan rak tinggi berisi kotak-kotak kayu berisi koleksi serangga. Ruangan ini nampaknya adalah ruangan utama dari museum biologi karena berisi koleksi hewan-hewan awetan yang lebih besar seperti harimau, orang utan, beberapa jenis kera, dan tapir. Saat saya memasuki ruangan itu memang sudah terasa sedikit aneh karena bapak dan kedua anaknya tadi nampaknya memilih untuk tidak masuk ke ruangan ini. Hanya kami berdua yang ada di ruangan itu. Di sebelah kiri ruangan ada sebuah kotak kaca besar dengan lis kayu berwarna putih-krem yang didalamnya terdapat beberapa hewan awetan. Tapir, bekantan, beberapa jenis kera, dan sejenis musang yang menggigit burung. Ada satu koleksi yang langsung membuat kami sama-sama menoleh. Sebuah potongan kepala seekor babi hutan nampak memandang kami dengan mata kelerengnya dari balik kotak kaca itu. Entah kenapa saya merasa ada yang berbeda dengan kepala babi hutan itu (nampaknya Titi juga merasakan hal yang sama karena kami langsung menatap kepala babi itu cukup lama).

Dan tiba-tiba saja rasanya ruangan jadi panas dan sesak. Saya merinding.

Saya belum pernah mengalami hal semacam itu sebelumnya. Tiba-tiba saja udara terasa sesak dan panas. Saya tetap berusaha menikmati koleksi lain karena saya tak mau Titi jadi panik. Dia pemberani sekali kalau nonton film horor, tapi penakut sekali kalau diajak ke tempat gelap dan semacamnya. Saya juga tidak berani bilang kalau sebenarnya saya merasa kami seperti ada yang mengikuti. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi saya merasa seperti ada 'seseorang' di belakang saya di ruangan tersebut tapi itu tak mungkin karena jelas hanya ada kami berdua di ruangan tersebut.  Semakin aneh karena bapak dan kedua anaknya itu nampaknya juga sudah meninggalkan museum, dan hanya tinggal kami berdua dan kedua pegawai yang jelas-jelas sedang ada di ruangan kantor sekarang.  Saya berusaha menenangkan diri, berusaha agar perasaan sesak itu hilang dengan terus-terusan berpikir "udah-nggak-usah-mikir-aneh-aneh-deh".
Perasaan itu semakin kuat saat saya masuk ke ruangan sempit yang di dalamnya terdapat kerangka manusia berwarna kecoklatan dalam sebuah lemari kaca. Saya sadar bahwa Titi juga ketakutan, tapi dengan bijak memilih untuk tidak panik dan pelan-pelan mengajak kami berdua keluar museum.

Di parkiran saya langsung menyalakan sepeda motor. Di luar museum 'perasaan' itu seketika hilang, tapi saya masih merasa tidak nyaman. Tangan saya basah oleh keringat.  Sebelum pulang saya sempatkan menyapa bapak pegawai yang tadi memberikan kami karcis. Jelas ada yang 'nunggu' di museum ini, pikir saya. Saya ingat bahwa dulu saya pernah membaca sebuah artikel di internet yang menyatakan kalau Museum Biologi UGM ini memang sedikit angker. Konon para penjaga malam sering mendengar ada suara hewan seperti harimau atau kera di dalam ruangan museum yang sudah dikunci, padahal semua sama-sama tahu kalau tak ada hewan  yang masih 'hidup' di dalamnya.

Soal apa sebenarnya terjadi tadi siang, well ... Wallahu Alam ...

 

Tidak ada komentar: