Rabu, 12 Desember 2012

Sate, Lontong, dan Kesuksesan



Bu Sri, ibu kos saya (atau mungkin lebih tepat dipanggil nenek kos mengingat usianya yang memang sudah sepuh) berbagai sebuah cerita menarik sesaat sebelum saya mengeluarkan motor dari garasi. 

Bu Sri memiliki dua rumah, yang pertama kos yang saya tempati sekarang dan yang kedua rumah keluarga yang ada di daerah Pojok Beteng dekat Kraton Jogjakarta. Di rumah Pojok Beteng ini Bu Sri memiliki tetangga yang pekerjaan sehari-hari adalah tukang sate keliling. Mungkin yang tinggal di Jogja pernah melihat atau bahkan mencicipi sajian sate keliling ini, yang gerobaknya berbentuk seperti perahu dan biasanya saat didorong mengeluarkan bunyi lonceng. Suami istri ini bisa dibilang hidupnya sangat pas-pasan. " Wonge ki ra duwe, uripe yo muk sakonone (Orangnya tak punya, hidupnya hanya seadanya saja)", begitu kata Bu Sri. Karena memang hidupnya pas-pasan akhirnya putri semata wayang mereka tidak dapat melanjutkan kuliah. Padahal kata Bu Sri si bapak ingin sekali putrinya bisa melanjutkan kuliah dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Siti, putri pasangan penjual sate ini akhirnya harus ngenger (jawa: ikut) sebagai pembantu di sebuah toko yang dimiliki seorang etnis Cina untuk membantu ekonomi keluarga.

Tak disangka bapak pemilik toko ini ternyata adalah orang yang sangat baik. Beliau menawarkan Siti untuk memilih ingin kuliah di mana dan akan menanggung seluruh biaya kuliah, asalkan Siti tetap bekerja bantu-batu di toko saat malam sambil ngemong putranya yang masih kecil. Siti akhirnya memilih untuk kuliah seni kriya di ISI Jogja. Jadilah Siti kuliah pagi dan saat malam ia membantu mengasuh putra Bapak pemilik toko itu. Jujur saat pertama kali mendengar bahwa ia memilih jurusan itu saya ada perasaan iba, semacam pikiran "Kok nggak milih jurusan akuntansi atau apa gitu yang bisa gampang cari kerjanya .... ".

Pikiran tadi seperti langsung menampar saya balik, tepat di muka, karena baru kemarin dia lulus dan langsung ditarik oleh sebuah tim kurator museum di Jerman. Sekarang dia belajar bahasa Korea karena ia akan dipindah ke Korea untuk menetap cukup lama di sana, bekerja bersama beberapa seniman kriya Korea. Seketika ia langsung jadi bahan pembicaraan di kampung Jokteng. Siti menjadi contoh bahwa orang yang 'tidak punya'pun bisa sukses kalau mau berusaha dan berdoa. Wong cuman putrinya tukang jualan sate sama lontong kok ya bisa jadi seniman sukses di Jerman dan Korea, begitu kata orang-orang. Kata Bu Sri, orang tuanya langsung menangis waktu dengar dia diajak ke Jerman. Saya dengar juga waktu Siti wisuda keduanya sama-sama bingung waktu diminta tanda tangan kelulusan putrinya, karena keduanya cuman bisa bikin sate dan lontong, gak bisa kalau disuruh tanda tangan.

Satu hal hal yang saya petik pelajaran hari ini. Dulu sempat saya berpikir bahwa kesuksesan semacam Siti, melanglang buana ke luar negeri seperti itu harus didukung dengan ambisi yang menggebu-gebu. Giat promosi diri yang gencar biar dikenal. Menang sana-sini sambil unjuk gigi biar diminati. Tapi ternyata ya ndak harus begitu juga kok. Siti contohnya. Ndak harus jadi pribadi 'jakarta' yang nampak ambisinya, tetap saja berpegang pada budaya dan kerendah hatian ternyata juga bisa kemana-mana. Saya ingat dulu dia sering datang menengok Bu Sri. Perawakannya kecil, manis, sopan (bahkan dengan saya yang seumuran), dan keliatan sekali 'Jawa'nya. Kata Bu Sri, Siti adalah pribadi yang sangat nrimo, ndak pernah sambat (jawa : mengeluh) tentang apapun. Waktu kelulusan dia cuma menggunakan sarung Madura lama Ibunya yang berlubang dan hanya ditambal oleh sang ibu di malam sebelum wisuda karena memang keluarganya cuman punya satu sarung yang layak. 

" Ndak perlu ngoyo (berlebihan) untuk mengejar suatu keinginan. Pokoknya tetep tawakal. Eling. Kalau Allah SWT maringi dalan, ya kelakon..." kata Bu Sri. 

 Saya tersentil sekali pagi ini. Lebih beruntung dari Siti tapi kok ya masih begini-begini saja. Jelas ini pelajaran yang berharga buat saya hari ini :)